|
|||
|
|||
|
|
|
Muslim Inggris Dibuat Jengkel Sebuah Artikel 'Menjijikan' di Daily Telegraph
Menyusul Kasus "Usulkan 'Tembak' Warga Muslim, Inspektur Polisi di Inggris Diperiksa" Harian Inggris, Daily Telegraph, memuat sebuah artikel tentang Nabi Muhammad SAW dan agama Islam yang isinya sangat memojokkan umat Islam. Warga Muslim Inggris menilai artikel yang ditulis oleh Charles Moore itu sebagai artikel yang 'menjijikan' dan menunjukkan kebodohan serta arogansi dari orang yang sangat rasis.Asosiasi Muslim Britain (MAB), salah satu organisasi terkemuka di Inggris menyatakan, artikel Moore jelas-jelas menunjukkan rasa kebencian, bersifat menghasut dan bisa menimbulkan perpecahan. "Apa yang ingin dia perlihatkan adalah kebebasan berbicara, yang tanpa diragukan lagi akan berdampak pada masyarakat, yang menganggap hal ini sebagai lampu hijau untuk menyerang warga Muslim secara fisik dan mendiskriminasikan mereka dalam berbagai aspek kehidupan," demikian bunyi pernyataan sikap MAB menanggapi artikel tersebut. Moore, penulis tetap di Daily Telegraph, adalah salah seorang yang menentang akan diberlakukannya undang-undang untuk mengantisipasi diskriminasi agama yang saat ini sedang dipertimbangkan oleh pemerintah Inggris. Dalam artikelnya tanggal 11 Desember kemarin, Moore mengatakan, jika undang-undang jadi diberlakukan akan ada konsekuensi yang wajar, dan konsekuensi itu kemungkinan akan makin meningkatnya kebencian terhadap agama tertentu, khususnya terhadap agama Islam. Untuk melampiaskan ketidaksukaannya atas rencana pemerintah Inggris itu, Moore malah menulis artikel yang isinya menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW. Kebohongan dan Salah TafsirMAB menyatakan artikel yang dirulis Moore itu penuh dengan kebohongan, menyesatkan, dan kesalahan penafsiran. Dalam artikelnya, Moore menulis, di zaman Nabi Muhammad, wanita diperlakukan lebih sebagai 'hak milik' ketimbang sebagai manusia yang juga memiliki hak menentukan hidupnya sendiri. Moore mengambil contoh perkawinan Nabi Muhammad dengan Aisyah. Moore menyebutkan, Aisyah baru berusia 9 tahun saat menikah dengan Nabi Muhammad, dan oleh Moore hal ini dipertanyakan, "Apakah Nabi Muhammad seorang pedofilia?" Menjawab pertanyaan Moore itu, mantan Presiden organisasi Islamic Society of North America (ISNA) dan Direktur Islamic Society of Orange County, Garden Grove, California, Dr. Muzammil H. Siddiqi menyatakan, sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan, berapa sebenarnya umur Aisyah saat menikah dengan Nabi Muhammad SAW. "Dalam sejarah, tidak ada yang memastikan bahwa ia berusia 9 tahun ketika menjadi istri Nabi. Informasi yang ada hanya menyebutkan antara 9 sampai 24 tahun. Tapi kedewasaan Aisyah, tingkat pengetahuannya dan kontribusinya selama hidup Nabi Muhammad dan setelah wafatnya, mengindikasikan bahwa Aisyah bukan gadis berusia 9 tahun yang biasa, dan seharusnya usianya lebih dari itu," papar Siddiqi. Lebih lanjut Profesor Siddiqi mengungkapkan, bahwa pada saat itu, Nabi Muhammad bukanlah pria pertama yang melamar Aisyah. "Menurut banyak ahli sejarah, sebelum Nabi Muhammad, Jubair bin Mut'am sudah melamar Aisyah terlebih dahulu. Ini menunjukkan bahwa Aisyah sudah cukup dewasa untuk menikah di usianya pada saat itu." "Apapun persoalannya, termasuk soal umur, satu hal yang penting, Aisyah hidup dengan rukun dan harmonis bersama Nabi Muhammad SAW. Tak satupun, baik itu sahabat atau musuh Nabi yang diberitakan merasa keberatan atau menentang perkawinan mereka," tambah Profesor Siddiqi. Dalam artikelnya yang dimuat harian Daily Telegraph, Moore juga menulis, bahwa di negara-negara Islam, umat Kristen dan Yahudi diperlakukan sebagai warga negara kelas dua yang harus membayar jizyah, semacam pajak, hanya karena keyakinan mereka. Moore menuliskan bahwa sikap tidak toleran itu sudah menjadi ciri khas utama agama Islam. Apa yang ditulis Moore ini tentu saja bertentangan dengan ajaran Islam, yang tidak pernah mengajarkan paksaan untuk memeluk agama Islam seperti dijelaskan dalam kitab suci Al-Quran. Warga non Muslim yang ada di negara-negara Islam sangat menikmati kebebasan dan hak-hak mereka. Contoh nyata bagaimana warga non Muslim diperlakukan terlihat dari pesan Umar bin Khattab kepada khalifah penggantinya sebelum ia meninggal. Umar mengatakan, "Aku memerintahkan kamu bagaimana memperlakukan orang-orang yang telah diberikan perlindungan atas nama Allah dan Rasulnya (yaitu minoritas non Muslim di negara Islam yang dikenal sebagai zhimmi). Janji kita pada mereka harus dipenuhi, kita harus berjuang melindungi mereka dan mereka tidak boleh dibebani dengan sesuatu yang diluar kemampuan mereka." Buku-buku sejarah juga sudah banyak yang mengungkap bagaimana Islam melindungi kaum Yahudi dari penganut Kristen, dan bagaimana Islam melindungi penganut Kristen Timur dari kalangan penganut Katolik Roma. Di Spanyol di bawah kekuasaan Umayyah dan di Baghdad di bawah kalifah Abbas, warga Kristen dan Yahudi menikmati kebebasan menjalankan ibadah. Berkaitan dengan jizyah, itu bukanlah bentuk diskriminasi yang berdasarkan perbedaan agama. Jika kata jizyah dianggap menyinggung warga non Muslim, kata itu bisa diganti dengan istilah lain seperti pada masa Umar, ia menggunakan istilah sedekah untuk pemungutan jizyah dari penganut kristen Bani Taghlib untuk menghargai perasaan mereka. Pembayaran Jizyah adalah kewajiban finansial yang diberlakukan bagi mereka yang tidak membayar zakat. Besarnya jumlah yang dibayarkan antara Jizyah dan zakat juga hampir sama. Ini membuktikan bahwa Jizyah adalah cara yang digunakan pemerintah Islam bahwa setiap orang membayar jumlah yang sama dan adil. Jizyah juga diberlakukan bagi laki-laki Muslim yang tidak mau ikut dalam dinas kemiliteran. Sebaliknya non Muslim yang bergabung dalam dinas kemilitera di sebuah negara Islam tidak lagi dikenai kewajiban untuk membayar jizyah. Islam juga mengajarkan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan dari diskriminasi dan penjajahan. Islam bukan ancaman bagi komunitas manapun. Islam menyerukan untuk hidup rukun dan damai dengan setiap orang meski agamanya berbeda. Islam tidak membenarkan adanya kekerasan, ketidakadilan dan penjajahan. Islam justru menganjurkan ditegakannya keadilan, moralitas, toleransi dan perdamaian. Tidak benar kalau Islam dikatakan sebagai agama bagi para psikopat dan tidak lebih sebagai mesin penjajah, seperti yang ditulis Moore dalam artikelnya. Moore Harus Dipecat Menanggapi artikel Moore, Anas Altikitri dari MAB menyatakan, artikel Moore menunjukkan bahwa penulisnya sama sekali tidak tahu soal Islam dan Nabi Muhammad SAW. Padahal dalam buku H. Hart berjudul The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, Nabi Muhammad SAW menduduki posisi pertama."Charles Moore ingin dianggap sebagai orang yang mengerti soal Islam, padahal kenyataannya ia hanya mengungkapkan penafsiran yang salah, kebohongan dan dusta yang besar," kata Altikitri. Altikitri yang juga anggota Partai Respect di Inggris mengatakan, Daily Telegraph dan editornya seharusnya mencari tahu dulu soal Islam dan Nabi Muhammad SAW ketimbang memuat artikel yang jelek dan berisi ketololan di halaman korannya. Asosiasi Muslim Inggris atas nama umat Islam di seluruh dunia, menuntut agar Moore dipecat dari harian itu dan meminta Daily Telegraph menarik artikel tersebut serta membuat pernyataan maaf bukan hanya untuk umat Islam, tapi juga semua umat beragama yang menurut Moore layak diserang, baik keyakinannnya maupun figur-figur tokohnya. Meski mengalami penghinaan, kampanye menentang gerakan anti Islam di Inggris sudah mulai menunjukkan hasil yang positif. Baru-baru ini, bank ketiga terbesar di Inggris, Barclay yang memiliki banyak nasabah dari warga Muslim, menutup rekening Partai Nasional Inggris karena partai itu menyatakan anti Islam dan melontarkan pernyataan yang berbau rasis. Pada bulan Januari, Dewan Muslim Inggris melayangkan surat protes pada Pers Complaint Commision dan BBC, agar mereka mengambil sangsi disiplin terhadap kolumnis dan presenter, Robert Kilroy-Silk. Tuntutan itu dipenuhi oleh BBC yang langsung menghentikan siaran pagi Kilroy untuk kepentingan penyelidikan. Sementara itu Kilroy-Silk diminta meminta maaf atas pernyataannya yang mengatakan bahwa bangsa Arab adalah para "pelaku bom bunuh diri, penjagal dan suka menjajah wanita." (ln/iol/eramuslim) Usulkan 'Tembak' Warga Muslim, Inspektur Polisi di Inggris Diperiksaeramuslim - Kepolisian Manchester Inggris memeriksa seorang komandan polisi, Inspektur David Keller yang bertugas di kantor polisi wilayah Longsight, sebelah selatan Manchester. Keller harus menjalani pemeriksaan, karena melontarkan usulan yang bernuansa anti Islam. Kasus ini berawal ketika berlangsung rapat internal kepolisian yang membahas masalah keamanan pada bulan November kemarin. Dalam rapat itu, Keller mengeluarkan pendapatnya, agar aparat kepolisian menyiapkan senjata mesin untuk mencegah masuknya warga Muslim yang ingin merayakan Idul Fitri ke pusat kota. Bagian internal Kepolisian Greater Manchester (GMP) akan menyelidiki pernyataan Keller agar polisi bermotor harus membawa senjata mesin untuk 'menembak' mereka (warga Muslim) sebelum masuk ke pusat kota. Ungkapan Keller itu dianggap mengandung sentimen anti Islam. Keller mendapat dukungan dari Asosiasi Inspektur Polisi, dan percaya apa yang ia ucapkan bukanlah sebuah pernyataan anti Islam, tulis harian Guardian. Kepolisian Manchester memang sering menghadapi persoalan-persoalan yang berbau rasial. Menurut harian Guardian, Kepolisian Manchester adalah salah satu dari 14 kepolisian yang ada di Inggris, yang sering menjalani pemeriksaan oleh Komisi Kesetaraan Ras karena melanggar undang-undang tentang rasialisme. Seperti di negara-negara barat lainnya, warga Muslim di Inggris juga masih mengalami diskriminasi yang kuat terutama setelah peristiwa 11 September. Mereka sering mengalami penganiayaan oleh aparat kepolisian, digeledah dan diinterogasi dengan alasan yang tidak jelas. Kasus terbaru yang terjadi akhir bulan November kemarin menimpa seorang pelajar asal Syria. Pelajar ini kehilangan sebelah matanya, setelah dikeroyok oleh 5 orang tentara Inggris di sebuah nightclub di kota London. Pengeroyokan itu terjadi karena alasan rasial.(ln/iol)
|
|
||||||||
|
|
|
||||||||||
|
||
| Questions & suggestion or problems regarding this web site should be directed to webmaster | ||
| Copyright © Sep 2002 - Disclaimer - power with Pmachine All right reserved | ||
|
in association with Muslim Netters Association best viewed with IE Resoluton 800 X 600 |
||
|
|