Home Dengar Al Quran Online Al-Quran Search Baca Al-Quran Miracles of Quran
 
 Member :Log-In -Register 






    Bookmark and Share  

AHLUL BAIT

Katagori : Cinta Rasul
Oleh : Redaksi 08 Nov 2004 - 4:17 am

Hendaklah kalian mencintai Allah
karena Dia memelihara kalian dengan nikmat-nikmatNya.
Dan cintailah aku demi cintamu kepada Allah.
Dan cintailah akhli rumahku demi cintamu kepadaku.
(H.R. At Tirmidzi, Al Hakim dari ibnu abbas)


imageKetika serial Asy-syura tentang ahlul bait ditayangkan, maka hati-hati yang cinta akan ahlul bait merasakan sejarah dirinya berulang di depan kaca bisu. Mereka terkesima, berdegup, sedih, haru serta muncul perasaan duka mendalam. Karena ahlul bait adalah keluarga Rasulullah Sholallahu Allaihi Wassalam, keluarga Nabi kita, junjungan yang kita cintai, pembawa risalah yang karenanya kita menerima al-islam.

Ahlul bait adalah cermin kita yang izzah (kemuliaan) mereka adalah izzah kaum Muslimin, izzah kita semua, Yang al qur'an mulia menyebut dan mengabdikan mereka. "Ya ahlul bait, Allah akan membersihkan kamu sebersih- bersihnya"

Betapa hati kita terasa teriris, manusia-manusia mulia yang datang ke kuffah untuk suatu kemuliaan Islam malah mendapat suatu penghinaan bahkan pembantaian biadab dari orang-orang yang mengaku mengimani Rasulullah Muhammad. Hampir-hampir seperti mimpi ada manusia yang penuh kontradiksi semacam itu; berkata mencintai Rasulullah namun menghinakan cucu-cucu dan ahlul baitnya. Sepertinya mustahil muncul manusia yang bersalawat dan menyampaikan salam kepada junjungan kita Khotamul anbiya wal mursalin, namun dengan teganya menyusahkan para akhli keluarga beliau.

Bandingkan dengan sahabat awallun Muslimin, yang jangankan akan menyusahkan ahlul bait, menukar nyawa sendiri agar rasulullah tak tertusuk duri sekalipun akan mereka lakukan. Bahkan para pembesar quraish sampai frustrasi menghadapi manusia-manusia baru, manusia-manusia aneh, yang demikian cinta dan tunduk patuh kepada Rasulullah lebih dari rasa cinta dan tunduk patuh mereka pada bapak-bapak atau ibu-ibu mereka. Mereka bertabarruk, berebut untuk menerima makanan sisa dari Rasulullah, berebut untuk mendapat air bekas wudhu Rasulullah, saling berlomba untuk memberi kebaikan kepada belahan hati mereka.

Para sahabat awallun Muslimin menyebut putri Rasulullah, sebagai az zahra, fatimah az zahra. Zahra adalah bunga. Bunga islam, bunga dari segi akhlaq, kehalusan dan segalanya. Para sahabat mencintai fatimah az zahra lebih daripada mereka mencintai anak-anak mereka sendiri. Mengapa ? Karena fatimah az zahra adalah putri junjungan mereka, putri seseorang yang telah menyelamatkan mereka dunia dan akhirat, putri Rasulullah yang karena perantaraan beliau azab neraka yang sangat dahsyat ditukar dengan syurga yang penuh dengan kenikmatan.

Maka kita menjadi sepakat hanya manusia-manusia biadab saja yang berakhlaq seburuk itu kepada ahlul bait di kuffah. Adalah mustahil manusia yang berkhudwah, beruswah kepada tauhidul uswah, Rasulullah SAW akan bersikap tak sopan kepada ahlul baitnya. Dimana al hub (cinta)? Dimana tabarruk?

Inilah salah satu fitnatul qubra (fitnah besar) bagi dien Allah, munculnya sekelompok manusia yang mencoreng-moreng izzatul Islam, mencoreng islam dengan alasan islam, menghancurkan islam dengan senjata islam. Mereka jahil, tapi mereka tidak sadar.

Insya Allah kita dimasukkan Allah dalam kelompok manusia yang cinta akan ahlul bait lebih dari rasa cinta kita kepada keluarga kita sendiri, amiin.

wassalam,
abu zahra


Bagian 2/6


Ketika Hijrah, Rasulullah berjalan bersama abu bakar r.a, berdua dalam pengejaran pembunuh bayaran kaum Quraish. Allah menyelamatkan keduanya di gua Tsur. Ketika malam tiba, abu bakar merobek pakaiannya untuk alas tidur Rasulullah. Maka Rasulullah tertidur dengan pulas dalam pangkuan abu bakar. Meski terasa pegal tak digerakkan juga badannya, khawatir mengganggu tidur Rasu-lullah. Sampai kala jengking menyengat kakinya. Sengatannya demikian perih dan mengucurkan darah segar pada kaki abu bakar, namun tak juga digerakan badannya, sampai akhirnya abu bakar yang kokoh, tegar, dan gagah mengucurkan air mata karena perihnya luka. Rasulullah terbangun karena hangat air mata abu bakar menetes dan membasahi badan beliau. Terkejutlah beliau manakala melihat kaki yang terluka disengat kala jengking. Dengan izin Allah akhirnya luka itu sembuh setelah diobati Rasulullah.

Seorang yang beriman sejak memproklamirkan bahwa tiada ilah ('yang dicintai') selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah, maka rasa cinta kepada Allah mengambil bentuk awal berupa rasa cinta kepada Rasulullah. Mahabbaturrasul (cinta kepada rasul) ini berujud "sami'na wa atha'ana" (dengar dan taat) pada perintah rasul, berendah hati, mendahulukan, melindungi, dan kasih-sayang kepada beliau. dan mencintai ahlul baitnya.

Dan cintailah akhli rumahku demi cintamu kepadaku. "

Generasi terbaik ummat ini mencontohkan betapa mahabbaturra- sul bukan hanya terbatas pada salam dan salawat, namun juga mem- bentengi Rasulullah dari mara bahaya dalam banyak peperangan, tampil membela islam dari hinaan orang-orang yang suka meng-hina serta celaan dari orang-orang yang suka mencela. Bagi mere-ka mencintai Rasul bukan lagi sebuah perintah, tapi sesuatu yang memang telah ada di dalam dada mereka, dalam merah darah mereka, dalam setiap kebersamaan mereka bersama Rasulullah dan mengikuti
petunjuk-petunjuknya. Bagi mereka rasa cinta kepada Rasulullah adalah hal yang otomatis setelah mereka mengakui islam dan mem-baiatnya. Dan ini mewujud dalam pembuktian baik ketika periode Makkah maupun Madinah.

Mahabbaturrasul muncul dari keikhlasan dan ketulusan syar'i, rasa-sayang yang Allah tumbuhkan, yang tak dapat ditumbuhkan manusia meski dibelanjakan seluruh kekayaan yang meliputi dunia. Rasa sayang yang melebihi rasa sayang terhadap bapak-bapak, anak- anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang diusahakan, perniagaan yang dikhawatiri kerugiannya, rumah-rumah yang disukai. Bahkan rasa sayang yang melebihi rasa sayang kepada diri sendiri.

Al Mahabbah, cinta yang seperti itu pun dipinta orang yang dicintai untuk kita berikan kepada kecintaannya, ahlul bait. Orang yang mencinta akan menuruti keinginan orang yang dicintai. Inilah bukti cinta. Karena cinta tidak cukup dengan dan hanya dengan kata-kata.

Hasbunallah wa ni'mal wakiil.


Wassalam,
abu zahra (isnet.org)


Bagian 3/6


Cinta kepada ahlul bait bukanlah kepada ahlul bait itu sendiri sebagai pribadi yang lepas dari karakter aqidah dien ini. Dia adalah cinta atas sebuah konsekuensi, cinta yang muncul sebagai akibat syari'. Cinta yang berakar pada syahadah, menguat pada tha'at, dan bermuara pada amal. Cinta yang realistis, cinta yang sarat pembelaan, cinta yang muncul sebagai refleksi cinta kepada Allah dan RasulNya.

Maka cinta kepada ahlul bait adalah cinta yang selaras dan berharmoni dengan endapan rasa cinta mereka kepada Allah. Cinta kepada ahlul bait adalah salah satu dari sekian bukti cinta kepada Rasulullah, dan seorang Muslim yang telah berikrar untuk beruswah kepada Rasulullah mestilah mengadakan pembuktian cinta. Bila tidak maka kata cintanya hanyalah kehampaan, absurd dan tanpa makna.

Dalam garis ini maka setiap bukti cinta tak pernah akan memunculkan kontradiksi. Karena cinta adalah harmoni, tak ada cinta yang berlebih dan mubadzir. Bahkan bagi seorang Muslim urutan cinta adalah suatu kejelasan; Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman. Ahlul bait adalah orang-orang yang beriman, yang merupakan kerabat Rasulullah SAW. Cinta dalam aqidah dien ini tak akan pernah bertentangan, karena garis syari' hanya satu, cinta kepada Allah. Dan semuanya diturunkan dari rasa cinta ini.

Maka mestinya rasa cinta kepada ahlul bait tak akan pernah melebihi rasa cinta kepada Rasulullah SAW, dan rasa cinta kepada Muhammad bin abdullah tak akan pernah melebihi rasa cinta kepada Allah SWT, Rabb, Khalik dan Malik manusia. Juga rasa cinta kepada ahlul bait itu tidak akan pernah berkontradiksi dengan rasa cinta kepada kaum beriman. Karena wala (loyalitas) kaum beriman hanyalah kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman. Dan juga karena hakekat cinta itu sendiri yang berpilar tauhid.

Inilah cinta umat Muhammad SAW, cinta kepada ahlul bait Rasulnya, karena rasa cinta kepadanya. Dan mereka cinta kepada Muhammad SAW, karena cinta mereka sangat dan sangat bersangatan kepada Tuhan-nya.


Hasbunallah wa ni'mal wakiil.


Wassalam,
abu zahra


Bagian 4/6


AHLUL BAIT
" Hai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum; yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintaiNya,yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. "
(Al Maaidah: 54)


Urutan cinta seorang Muslim sejati, setelah mahabbatullah (cinta kepada Allah), dan mahabbaturrasul (cinta kepada rasul) adalah mahabbah kepada orang-orang yang beriman. Rasa cinta yang Rasulullah dalam sebuah sabdanya melukiskan;

"Perumpamaan kaum mu'minin dalam cinta-kasih dan rakhmat hati, mereka bagaikan satu badan. Apabila satu anggota menderita, maka menjalarlah penderitaan itu ke seluruh badan hingga tidak dapat tidur dan panas"
(H.R Bukhari dan Muslim)


Rasa cinta yang demikian besar, yang muncul atas ni'mat Allah (Ali Imran: 103). karena Allah lah yang telah mempersatukan hati orang-orang yang beriman, yang tanpaNya niscaya meski de- ngan semua kekayaan yang ada di bumi tak akan dapat dipersatu- kan hati-hati itu (Al Anfal:63).

Bagi orang yang beriman rasa cinta kasih muncul dari kesa- daran, bahwa mereka telah berikrar menolak semua ilah kecuali Allah. Mereka mempunyai ghayyah (tujuan) yang sama; ikut, takut, dan cinta kepada Allah yang sama, Tuhan semesta alam. Merekapun mengakui Muhammad bin Abdullah sebagai Rasulullah, uswatun kha-sanah, tauhiddul uswah. Mereka hanya mempunyai satu contohutama dalam pengabdiannya kepada Allah, yakni Nabi Terakhir, Muhammad SAW, uswah yang sama.

Dalam mengarungi hidup ini seorang yang beriman memiliki pedoman hidup, jalan hidup yang sama, kompas yang akan menye- lamatkannya dari ketersesatan di belukar ideologi manusiawi ; yakni dienul Islam. Mereka memiliki kitab petunjuk yg sama, yang darinya furqon diperoleh. Mereka adalah satu, satu ummah, dan bahkan dalam setiap harinya mereka shalat menghadap arah yang sama; Ka'bah di Makkah al Mukarromah.

Itulah unsur-unsur kesamaan yang mengikat jiwa seorang Mus- lim, yang menyatukan pijakan dan meluruskan tashawwur (pandang- an). Sehingga memunculkan kesamaan jati diri, kesamaan syak- syiyah (kepribadian), dan kesamaan sejarah di masa lampau.

Kesadaran akan kesamaan sejarah adalah modal besar bagi tumbuhnya keterikatan masa lalu, keterikatan di masa kini, dan keterikatan di masa depan. Kesamaan sejarah adalah kesamaan tawa dan tangis, kesamaan keringat dan air mata, kesamaan ceri- ta diri, kesamaan kenangan. Kesamaan sejarah akan membangkitkan nostalgia yang sama, kerinduan yang sama, dan harapan-harapan di masa depan yang sama. Dan ini akan mengental dalam cita-cita kolektif yang sama, kesamaan fikir dan gerak.

Beranjak dari kesadaran sejarah itu dan misi yang diemban sebagai khalifah fil ardh untuk menyebarkan rakhmatan lil 'ala- miin, tak ada cita-cita lain dari seorang yang beriman selain ukhuwah islamiyah, kesatuan ummat dalam aqidah yang lurus, ke- satuan ummat dalam qiadah islamiah (kepemimpinan islam), yang darinya negeri-negeri islam yang terampas dikembalikan, yang darinya izzah (kebanggaan) sebagai seorang Muslim ditegakkan, yang darinya kemuliaan islam dipancarkan, di dalamnya peratur- an Allah dan RasulNya ditegakkan, sehingga tidak ada lagi fit- nah (penyembahan manusia terhadap selain Allah) di muka bumi dan semua penyembahan dikembalikan hanya kepada Allah, Allah lah Rabb sekalian alam, Allah lah Tuhan sekalian manusia yang jiwa kita ada ditanganNya. Inilah cita-cita seorang Muslim sejati, cita-cita kolektif di masa depan.

Kesamaan jati-diri, kesamaan aqidah, kesamaan amanah yang digenggam, kesamaan sejarah, kesamaan misi. Maka inilah cinta diantara orang-orang yang beriman, termasuk cinta kepada ahlul bait Rasulnya, Muhammad SAW. Maka rasa cinta kepada para sahabat awallun Muslimin, salafus shalih, tak akan pernah akan berkontra-diksi dengan rasa cinta kepada ahlul bait, karena ahlul bait adalah awallun Muslimin juga, dan sama-sama kaum yang beriman, dan bukan seperti keluarga Nabi Nuh AS yang membangkang.

Inilah harmoni cinta, yang sumbernya hanya aqidah, bukan darah dan keturunan.


Hasbunallah wa ni'mal wakiil.


Wassalam,
abu zahra


Bagian 5/6


"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman AMAT SANGAT CINTANYA kepada Allah."
( Al Baqarah: 165)


Seorang yang beriman sejak memproklamirkan bahwa tiada ilah (ilah dapat berma'na 'yang dicintai') selain Allah dan berilti-zam (commit) sepenuh daya akan proklamasi diri ini, maka Allah telah ditempatkan dan menempati tiang tertinggi cintanya. Mahabbatullah (cinta akan Allah) memenuhi seluruh rongga dada dan merah hatinya. Dari sanalah diturunkan rasa cinta kepada RasulNya, orang-orang beriman, sanak keluarga dan para kerabat.

Rasa cinta itu demikian bersangatan, AMAT SANGAT, mengalah-kan cintanya kepada anak dan istri, perniagaan yang dikhawatir-kan kerugiannya. Cinta, harap dan takut kepada Rabb Yang mecip-takan dirinya, yang memberinya rizki dan pertolongan. Lalu rasa takut cinta tak diterimaNya akan menambah-nambah rasa cinta itu. Sehingga seorang mu'min amat sangat cintanya kepada Allah dan hasrat yang besar untuk bertemu denganNya.

Refleksi cinta adalah tunduk-patuh, menurut, taat akan perin-tah Allah dan menjauhkan segala laranganNya. Mahabbatullah tidak cukup sekedar di mulut lalu menyepi, menyendiri dan hanya melaksa-nakan ibadah mahdoh (khusus) belaka tanpa melihat kondisi kaum Muslimin yang merealitas. Rasa cinta kepada Allah tidak cukup dengan hanya menjadi seorang abid (akhli ibadah) dan lari dari kenyataan yang menimpa kaum Muslimin. Tak cukup dengan beribadah sendirian lalu ingin masuk surga sendirian. Mahabbatullah bukanlah melulu dengan dzikir lisan sampai ludah penuh membasahi tikar dan mengeringkan tenggorok, lalu mengaku wahdattul wujud (bersa-tu dengan Allah) atau mengaku menjadi Allah. Rasa cinta kepada Allah tidak cukup dengan itu semua, sama sekali tidak cukup, apa-lagi di saat kaum Muslimin tertindas, hak-haknya terampas, diper-malukan dan dihinakan.

Rasa cinta yang benar adalah sebagaimana yang dicontohkan Ra-sulullah, tauhiddul uswah, dijalankan oleh generasi terbaik umat ini, para awwalun Muslimin. Rasa cinta yang meresap pada setiap gerak bibir, yang membasah dalam setiap tetes keringat, yang me-ngental dalam setiap merah darah tubuh yang terluka, yang mengen-dap bersama ruhhul jihad, yang memancar bersama denting pedang, helaan tali kekang kuda, dan luncuran anak panah. Rasa cinta yg merealitas, rasa cinta yang mewujud dan bukan sekedar angan-angan egoisme dalam penyendirian. Rasa cinta yang muncul dari segenap daya dan bukan melulu kata-kata dan sebatas kata-kata percintaan sufistik.

Cinta akan Allah mewujud dalam upaya menegakkan kalimatNya, membangun qiyadah (kepemimpinan) yang memuliakanNya, membangun kesatuan yang mengangkat izzah (kebanggaan) kaum Muslimin, merebut kembali hak-hak kaum Muslimin yang terampas, membebaskan negeri-negeri Muslim yang terjajah, membebaskan penyembahan manusia atas mamanusia, penyembahan manusia atas materi dan kekuasaan, pemyembahan manusia atas nafsu syahwat lalu mengukuhkan tugas suci sebagai khalifah fil ardh, memainkan peran untuk memberi rakhmattan lil 'alamiin. Mahabbatullah mestilah mengambil bentuk dalam amal jama'i,
amar ma'ruf nahi munkar.

Inilah cinta kepadaNya, cinta yang hidup, cinta yang mewujud, cinta yang realistis, cinta yang mengental dalam akhlaq islami, cinta yang melandasi setiap sikap cinta kepada mahluk, sikap yang melandasi cinta kepada kaum Muslimin, ahlul bait Rasulullah, cinta yang dicontohkan oleh manusia teladan, Muhammad SAW.

Hasbunallah wa ni'mal wakiil.


Wassalam,
abu zahra


Bagian 6/6


AHLUL BAIT DAN WALA


"Sesungguhnya wala kamu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman menjadi walanya, maka sesungguhnya hizbullah itulah yang PASTI menang "
(Al Maidah:54-55)


Wala, wali, bermakna penolong, penerima loyalitas, sesuatu kepada siapa kita menyerahkan pengabdian. Al wala adalah tem-pat dimana kita menggantungkan harapan, menumpahkan rasa sedih dan gembira, memohon pertolongan dan perlindungan. Tempat di-mana tawa dan tangis, senyum dan air mata kita sebarkan. Dalam gerak itu kita berjalan, dalam komunitas itu kita hidup, dalam dinamikanya kita menyumbangkan kelebihan dan memperbaiki keku-rangan. Maka sebaik-baiknya wala adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Maka barang siapa yang berwala kepada ini jaminan Allah adalah kemenangan. Menang dalam fase di dunia adalah kemuliaan, dalam fase di akhirat adalah jannah.

Al wala adalah inti aqidah islamiah dan dasar yang mengikat akhlaq islami. Dia merupakan perwujudan syahadah, persaksian yang menolak semua ilah (yang diikuti) kecuali Allah, Tuhan dengan segala asmaul husnaNya.

Dalam titik pemahaman aqidah ini, maka gugurlah dalam hati seorang Muslim semua ilah; tidak ada tuhan bikinan manusia lalu mereka tunduk kepadanya, tidak ada hawa nafsu yang menguasai hati. Dalam posisi ini seorang Muslim akan menjadi makhluk yang merdeka bebas dari jerat-jerat hawa nafsu syahwat, bebas dari belenggu harta atau tahta, karena seluruh relung hatinya, semua pekat merah darahnya hanyalah untuk Allah dan RasulNya. Tidak ada lagi sisa-sisa loyalitas untuk yang lain, tak ada lagi ciri pengabdian ganda dan double standard. Baginya yang ada hanya mono loyalitas untuk Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman.

Dalam posisi ini, seorang Muslim tidak berdiri di awang-awang, atau memihak golongan atau aliran. Tempat berdirinya jelas dan bahkan sangat jelas. Dia berdiri dengan sepenuh pemihakkan. Tuhannya hanya Allah dan diennya hanya Islam. Tuhan yang lain hanyalah makhluk yang tak patut disembah, agama yang lain adalah jalan hidup yang tak pantas diikuti. Ummat Islam hanya satu jama'atul Muslimin, yang mesti segera diwujudkan eksistensinya.

Hanya Allah Tuhan sekalian alam, hanya Allah Tuhan seluruh manusia, yang tak beranak dan diberanakkan, dan dia hanya menyembah Allah. Hanya islam agama yang diridhaiNya, dan agama yang lain hanya akan mengantarkannya ke dalam neraka jahanam. Maka setiap kata-kata yang meluncur dari lidahnya adalah tanda-tanda pemihakkan, setiap gerak yang keluar hanyalah bukti loyalitas, setiap pemikiran yang tersebar hanyalah penjelas betapa benarnya Allah dan RasulNya.

Inilah seorang Muslim yang berakhlaq islami, dia memihak kepada Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman dengan sepenuh pemi-hakkan, dengan segenap loyalitas. Dia tidak netral atau berfihak hanya kepada golongannya. Rasa cintanya tidak hanya terbatas pada sebagian sahabat awallun Muslimin lalu menolak yang lainnya.

Tetapi rasa cinta mereka mengalir hangat kepada yang lain, kepada sahabat yang terbukti tingkat keimanannya, dia tidak memilah-milah soal ini. Mereka mencintai ahlul bait melebihi cinta mereka kepada keluarga mereka sendiri, serta mereka juga mencintai para salafus shaleh yang ikhlash, mereka bercinta karena wala kepada Allah.

Karenanya bagi mereka tak pernah ada suuni atau syi'ah, yang ada hanya jama'atul Muslimin, yang segera akan merebut hegemoni dan menetapkan khilafah islamiyah 'alamiyah, insya Allah.

Hanya hizbullah saja yang PASTI menang.

Hasbunallah wa ni'mal wakiil.


Wassalam,
abu zahra (isnet.org)


  Tell A Friend | Print ada 0 thread - Beri Komentar | dibaca 3842 hits 

Related Article
10 Muharram : Syahidnya Imam Husein di pertempuran di Karbala (1/2)
10 Muharram : Syahidnya Imam Husein di pertempuran di Karbala (2/2)
Adab Hormat dan Tabarruk: Sunnah Nabi yang Dilupakan (bagian 1/6)
Adab Hormat dan Tabarruk: Sunnah Nabi yang Dilupakan (bagian 2/6)
Adab Hormat dan Tabarruk: Sunnah Nabi yang Dilupakan (bagian 3/6)
Ahlul Bait dan Ayat Mawaddah
Al-Hurr: mengapa kita melupakannya?

Google Translate 2

 
       

NO COPYRIGHT
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan bersama syukur Alhamdulillah sumber artikel dicantumkan

Questions & suggestion or problems regarding this web site should be directed to webmaster
Copyright © Sep 2002 - Disclaimer - power with Pmachine All right reserved

in association with Muslim Netters Association

best viewed with IE Resoluton 800 X 600