Member :Log-In -Register







    Bookmark and Share  

Memangkas Salib di Perkampungan Betawi

Oleh : Fakta 02 Jul, 04 - 5:14 pm

Baca juga : BU HAJI di GEREJA
Masih ingat heboh penayangan Misa Natal di Kampung Sawah oleh SCTV 25 Desember beberapa tahun lalu ?" Jemaat gerejanya berpeci dan kerudung, atribut yang identik dengan ummat Islam. Kalangan Kristen sedang membangun kesan bahwa masyarakat Betawi identik dengan Kristen" Untuk menguak realitas sesungguhnya, Sahid menurunkan wartawannya ke ujung timur Jakarta itu.
image


Boleh percaya boleh tidak, tapi inilah yang terjadi di sebuah kampung Betawi di dekat perbatasan Jabar-Jakarta. Ketika mentari belum lagi mengintip, jalan selebar dua mobil itu telah ramai oleh suara sepatu yang mengalir dari gang-gang kecil. Selain tawa dan obrolan kecil, aroma parfum yang menebar pun turut mewarnai pagi buta itu. Sesekali deru mesin mobil dan motor memecah dari dua arah berlawanan.

Semuanya menuju ke satu tempat: GEREJA.



Menjelang terang, jalan kampung yang beraspal kelas empat itu penuh dengan kendaraan pribadi. Selanjutnya menggema kidung pujian ke segala penjuru. Ketika senja ditelan cakrawala, tak ada tanda-tanda aktivitas di gereja itu akan berhenti. Bahkan ketika malam tiba lampu-lampu di gedung itu tak juga dipadamkan. Esok paginya aktivitas serupa berlangsung lagi.

Tak heran jika setiap hari selalu terlihat kendaraan mewah keluar masuk kampung itu. Tentu saja bukan sekadar untuk mencari jalan alternatif dari kemacetan, sebab banyak bagian jalan-jalan di kampung itu telah rusak dan berlubang. Apalagi saat musim hujan, becek.

Tidak cukup di gereja, pada malam tertentu acara berlangsung juga ke rumah penduduk. "Siapa yang sering absen ke gereja dikontrol lewat acara itu," papar Mela yang baru menyadari keadaan kampungnya setelah ia bersekolah di luar Kampung Sawah. Walhasil kampung yang ada di pelosok itu ramai dengan berbagai kegiatan Kristen.

Sebenarnya Kampung Sawah tidak berbeda dengan kampung di sekitarnya yang kehidupan penduduknya masih belum begitu makmur. Memang, di sepanjang jalan Kampung Sawah terlihat cukup maju. Itu karena di sana berjejer berbagai sarana utama kegiatan Kristen tadi. Tapi di bagian dalam kampung itu penghidupannya biasa-biasa saja. Apalagi dari sumber mata pencarian, kebanyakan dari mereka adalah dagang dan wiraswasta. Hanya sebagian saja yang berprofesi sebagai pegawai, baik negeri maupun swasta.

Meski begitu, di kampung yang letak persisnya di tenggara Jakarta itu terdapat tiga gereja besar, yakni Pasundan, Advent, dan Servatius. Gereja Servatius merupakan gereja terbesar dan terlengkap sarananya. Arsitekturnya bergaya Eropa kuno. Parkirnya luas dan asri. Konon, umurnya lebih dari 100 tahun. Hebatnyanya lagi, gereja ini pernah diresmikan oleh mantan Pangab Leonardus Benny Moerdani dalam satu kesempatan pemugaran.

Di sekitar gereja tersebar sekolah, balai kesehatan, dan balai pelatihan, lengkap dengan penginapannya. Antara lain Sekolah Strada dan Katolik; Balai Besehatan Melani, serta Pondok Damai. Bangunan terakhir disinyalir oleh sejumlah warga sebagai tempat pengkaderan pastur dan misionaris.

Dalam jangka panjang, kegiatan Kristen di Kampung Sawah juga akan semakin ramai dengan akan dibangunnya Gereja Kwitang. "Kalau lewat di depan kelurahan, Anda bisa lihat di situ sudah dipasang patok-patoknya," ungkap Sholeh, seorang penduduk setempat lainnya yang kebetulan bukan asli Kampung
Sawah.

Meski masyarakatnya adalah orang-orang Betawi, tetapi secara administratif Kampung Sawah bukan wilayah DKI Jakarta. Tepatnya di Kecamatan Pembantu Jati Sampurna, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Berbatasan dengan Pondok Gede dan DKI, Kampung Sawah mencakup tiga desa, yaitu Desa Jati Warna, Desa Jati Murni dan Desa Jati Ranggon. Untuk mencapai daerah yang terletak sekitar 20 kilometer dari perbatasan Jakarta Timur itu paling tidak harus dua kali menumpang angkot dari terminal Kampung Rambutan.

Dinamika warga Kristen yang amat semarak itu menimbulkan anggapan, Kampung Sawah identik dengan pemukiman Kristen. Padahal menurut Sholeh, sebetulnya warga Muslim di kampung itu lebih banyak daripada warga Kristennya.

Madi, yang pernah menjadi ketua RT di sana menambahkan, dari seluruh penduduk yang berjumlah sekitar 4700 KK pada tahun 1988, yang beragama Kristen hanya 700 KK. "Di RT saya saja yang di kelurahan disebut paling banyak orang Kristennya. Dari 84 KK, yang Kristen cuma 30 KK, itu pun nggak semuanya orang Betawi," tambah pedagang kelontong itu.

Menegaskan data yang diungkap Madi, Sholeh mengungkapkan bahwa mereka umumnya pendatang yang berasal dari Floses, NTT, Batak serta orang-orang Jawa. "Jadi, orang Kristennya di sini kelihatan besar karena banyak pendatang itu," tegas pengelola sebuah yayasan Islam di kampung Sawah.

Apalagi kemudian ditambah warga yang menjadi Kristen karena perkawinan dan pekerjaan. "Kalau lagi ngurusin KTP warga, saya sering kaget karena banyak yang minta ganti nama dan agama jadi Kristen," kenang Madi.

Tapi apa mau dikata, Kampung Sawah memang sudah telanjur dikenal sebagai perkampungan orang-orang Betawi Kristen. Pengalaman Madi bersilaturahmi dengan orang-orang di luar Kampung Sawah menunjukkan hal itu. Mereka kaget ketika mengetahui ia shalat. "Orang-orang yang belum tahu kita dianggapnya orang Kristen," tutur Madi lagi.

Bukan sekali dua kali Madi mengalami hal serupa. Dalam beberapa kali kesempatan lainnya, ia juga kerap dianggap sebagai orang Kristen ketika mengaku berasal dari Kampung Sawah. Apalagi rumahnya berseberangan dengan sebuah gereja yang lumayan besar. Menurutnya, beberapa rekannya yang juga asli Kampung Sawah juga sering mengalami hal serupa.

Tayangan Misa Natal di SCTV semakin memperkuat anggapan bahwa Kampung Sawah sebagai kampung Kristen. Itulah sebabnya Madi dan sejumlah masyarakat kesal dengan SCTV. "Orang sini sebetulnya banyak yang nggak terima sama acara di SCTV itu," ungkapnya kepada Sahid.

Gara-gara Gadis Dance


Tentang asal usul agama Kristen di sana, penelitian Yasmine Z Shahab untuk desertasi doktornya (l989 dan l992) menyebutkan ada beberapa versi. Versi pertama, ketika Belanda datang ke Kampung Sawah ratusan tahun lalu, mereka membawa serta seorang gadis bernama Dance. Kemudian ada seorang jawara (jagoan) yang sangat ditakuti dari Gunung Putri, Bogor, yang ingin memperistrinya. Karena hubungannya yang dekat dengan Belanda, akhirnya jawara yang bernama Jibun itu bisa mengawininya. Dari perkawinan itu lahir
seorang anak bernama Syarif yang kemudian oleh salah seorang pendeta dibawa ke Belanda untuk disekolahkan. Namanya pun diganti menjadi Esau.

Sekembalinya dari Belanda anak itu kemudian kawin dengan penduduk asli. Dari situlah kemudian berkembang menjadi keturunan sampai beberapa generasi seperti sekarang ini. Selain tinggal di Kampung Sawah, sebagian dari mereka juga ada yang bermukim di daerah Cawang dan Kramat Jati, dua tempat yang
juga ada di pinggiran Jakarta.

Dalam penelitiannya, Yasmine menemukan bahwa tersebarnya sebagian anggota dari komunitas Kampung Sawah ke daerah-daerah tersebut terjadi beberapa saat setelah Indonesia merdeka. Ketika itu warga pribumi --yang sebelumnya sering diperlakukan secara berbeda oleh kalangan Kristen melampiaskan kecemburuannya dengan melakukan balas dendam dengan menekan dan mengusir mereka dari sana. Maka terjadilah diasfora pada warga Kristen Kampung Sawah itu. "Sampai sekarang masih ada cucu-cucu keturunan Dance itu di sana," ujar dosen Antropologi Kependudukan di FISIP UI itu.

Versi lain menyebutkan, tumbuhnya komunitas Kristen Kampung Sawah berawal dari hijrahnya sejumlah pekerja dari sebuah perkebunan di Tangerang oleh seorang tuan tanah Belanda ke kampung itu. Dua orang di antaranya diangkat sebagai anak oleh tuan tanah itu, yakni Layu Tjimi dan Anis Tjimi. Seperti biasa nama keduanya pun diganti olehnya menjadi Yoel Tjimi dan Yohanes Tjimi.

Selain dididik, mereka juga dikawinkan dengan penduduk asli Kampung Sawah hingga melahirkan beberapa generasi keturunan. Sejumlah anggota keturunan mereka biasa dipanggil dengan anak cucu Tjimi. Dan seperti halnya keturunan Dance, mereka juga mengalami diasfora sebagai akibat merdekanya Indonesia.

Masih ada sejumlah versi lain. Tapi terlepas dari itu, menurut Yasmine, berdasarkan surveinya, secara umum masyarakat Kampung Sawah yang Kristen itu sudah melepaskan kultur ke-Betawiannya, atau setidaknya tidak lagi menyatu dengan tradisi penduduk asli yang masih menganut Islam.

Contohnya, pernah ia melayat ke kematian seorang warga Betawi yang beragama Kristen. Selama prosesi berlangsung, ia tidak menemukan sedikitpun ada kultur Betawi yang terkait dengan kematian pada acara itu. "Yang masih hidup pun ketika saya wawancarai umumnya tidak mau disebut dirinya sebagai orang Betawi. Karena Betawi itu menurut mereka identik dengan Islam," ujar dekan FISIP Universitas Az-Zahra itu.

Madi mendukung penjelasan Yasmine, bahwa secara kultural warga Betawi yang Kristen itu memang sudah tidak terlalu akrab lagi dengan budaya Betawi. Apalagi banyak dari mereka yang menjadi Kristen sudah sejak lahir karena mengikuti orang tuanya yang juga Kristen. Jangankan budaya, atribut-atribut Betawi saja ada yang sudah tidak punya lagi. "Waktu orang-orang itu disuruh sama pastur supaya pakai peci, ada yang datang minjem ke saya," aku Madi sambil menyatakan bahwa penggunaan peci dan kerudung itu baru berlangsung belakangan ini saja.

Menarik untuk dicermati, mengapa sebagian masyarakat Betawi yang dikenal sebagai sangat kuat memegang tradisi dan kultur yang bernuansa Islam itu bisa tercabut dari akar-akar budayanya" Bahkan akidahpun sudah bisa terbeli sama sekali.

Menurut keterangan yang dihimpun dari sejumlah warga Muslim seperti Sholeh, Mela, dan Madi, serta dari penelitian Dr Yasmine, Kampung Sawah sejak masuknya orang-orang Belanda memang sudah dijadikan sebagai pusat kegiatan Kristen. Lewat interaksi yang dalam itulah warga setempat menerima banyak pengaruh. Akibatnya, seperti tergambar dalam sejarah Kampung Sawah di atas, mau tidak mau ada saja warga Betawi yang ikut berpindah agama.

Lagi-lagi Karena Bujukan


Pengalaman Madi menujukkan hal itu. Sejak kecil ia beserta teman-teman sebayanya juga sering sekali diajak oleh tetangga-tetangganya ikut ke gereja. "Nanti pulang dari gereja kita dikasih susu, telor bulgur, atawa kalau nggak tepung jagung," kenangnya. "Tapi kalau sekarang sih kita nggak bakal mau lagi di suruh ke sono," timpal istrinya.

Pihak gereja juga kerap kali mengunjungi warga setempat sambil membagikan makanan. "Biasanya tiap sore orang-orang sini sering didatangi sama suster-suster," tutur Madi. Pendekatan itulah yang kemudian membuat sejumlah warga Betawi yang Muslim jadi mudah terbujuk berpindah agama. "Ya maklum, orang Betawi dulu kan hidupnya susah, jadi mau saja diajak jadi Kristen," lanjutnya.

Masih ada jurus lain, yakni melalui perkawinan, pemberian lapangan pekerjaan, serta pembelian tanah-tanah milik penduduk setempat, terutama yang letaknya strategis, seperti di pinggir-pinggir jalan.

Melalui perkawinan, menurut cerita Madi dan Mela, orang-orang Kristen menempuh strategi yang licik. "Waktu mau kawin sama orang sini dia masuk Islam.

Kalau sudah punya anak, balik lagi jadi Kristen. Lantaran berat ke anak, bininya juga ikut Kristen," tutur Mela geram. Memang ada juga yang tetap bertahan dengan agama masing-masing. Tapi akibatnya banyak yang hidup serumah dengan anggota-anggota keluarganya yang saling berseberangan agama.

Yang unik, sekalipun berbeda agama, hubungan sosial mereka cukup rukun, karena lebih didasari pada hubungan keluarga. Setiap hari raya misalnya, orang-orang Betawi Kristen kerap berkunjung dan membuatkan makanan serta mengucapkan selamat Idul Fitri. Begitu juga sebaliknya. "Baru dua tahun ini
saja kita nggak kirim-kiriman lagi, habis katanya ada yang bilang haram," tutur istri Madi.

Sementara itu dari sisi ekonomi, gereja memberikan pekerjaan kepada warga setempat. Setelah sekian lama bekerja, baru ditawarkan pilihan untuk masuk Kristen jika ingin tetap bekerja atau dipecat jika bertahan sebagai Muslim. Menurut keterangan Madi, banyak sekali rekan-rekannya yang masuk Kristen lantaran dipaksa seperti itu. "Nggak tahu tuh kenapa pada mau saja disuruh pindah agama," keluhnya sambil menunjukkan sejumlah rumah yang penghuninya sudah Kristen.

Menurut Sholeh, yang juga dikenal sebagai ustadz, warga Kampung Sawah bisa dengan mudah pindah agama, disebabkan karena pemahaman Islam mereka yang minim. Memang satu dua tempat masih ada pengajian, khususnya ibu-ibu. Tapi itu berlangsung hanya sebagai ritual belaka, bukan sebagai media untuk
membangun kesadaran yang lebih dalam tentang Islam. "Acaranya begitu saja. Kumpul-kumpul, baca Yasin dan ratiban. Habis itu ngocok arisan deh, selebihnya ngobrol ngalor ngidul," papar Mela Prihatin.

Sebetulnya secara kuantitas di kampung itu bukan cuma penduduknya saja yang lebih banyak Muslim, tapi fasilitas-fasilitas fisik seperti masjid dan lembaga pendidikan Islam pun lebih banyak jumlahnya dibanding dengan apa yang dimiliki Kristen. "Yang besar-besar aja di Kampung Sawah ada enam masjid, belum lagi mushala dan madrasah-madrasah," jelas Sholeh.

Memang fasilitas belajar dan alat-alat yang dimiliki gereja lebih lengkap. Tapi persoalannya bagi ummat Islam justru bukan di situ, melainkan karena di Kampung Sawah terdapat sedikit sekali tenaga da*i dan guru agama. Dai-dai yang kini ada, menurut Sholeh, masih kurang memadai, terutama dari sisi pengaruh dan komitmennya berjuang. "Bagaimana dia mau diikuti, kalau keluarganya sendiri masih ada yang Kristen," ujar Sholeh.

Melihat semua problem yang amat kompleks tersebut, Sholeh saat ini bersama teman-temannya yang kebetulan sama-sama aktif di Partai Keadilan, khususnya DPC Jati Sampurna, tengah menggulirkan program dakwah berupa pengembangan dakwah dan pendidikan. Salah satunya dengan memberikan beasiswa kepada sejumlah anak Kampung Sawah yang dihimpun dari pengelolaan zakat masjid al-Istiqomah, kompleks Bulog. "Sebagai partai dakwah kami memang ingin berusaha memenuhi komitmen kami terhadap ummat," tegas Sholeh yang juga menjabat sebagai PK DPC Jati Sampurna.

Tapi tentu saja apa yang dilakukan Sholeh itu harus mendapat dukungan semua pihak. Dukungan itu pun harus dilakukan secara optimal dan berkesinambungan, baik oleh lembaga maupun individu. Jika tidak, Kampung Sawah suatu saat nanti benar-benar akan menjadi kampung Kristen lantaran ummat Islam di tempat lain kurang peduli terhadap nasib saudara-saudaranya di sana yang tengah terancam akidahnya. (Sabili)

  Tell A Friend | Print ada 27 thread - Beri Komentar | dibaca 2497 hits 

Google Translate 2

 
       
NO COPYRIGHT©
TIDAK DILARANG KERAS mengcopy, memperbanyak, mengedarkan
untuk kemaslahatan bersama syukur Alhamdulillah sumber artikel dicantumkan
Questions & suggestion or problems regarding this web site should be directed to webmaster
Copyright © Sep 2002 - Disclaimer - power with Pmachine All right reserved

in association with Muslim Netters Association

best viewed with IE Resoluton 800 X 600