Falsafah 

Falsafat Peringatan & Peristiwa Karbala

 Falsafat Peringatan  Mengapa Asyura Diperingati Tiap Tahun?

Selama 14 abad ini, para pengikut Ahlul Bait tiap tahunnya selalu mengenang peristiwa heroik Asyura yang sangat tragis. Mereka mengenang kembali lembaran demi lembaran sejarah yang menghiasi darah-darah suci yang tertumpah di Karbala. Mereka menangis, terkadang sampai histeris. Di negeri-negeri muslim yang tradisi Syiah-nya sudah sangat kental, Asyura berarti upacara-upacara duka dengan cara turun ke jalan atau hadir di majelis-majelis duka cita.

Banyak kaum muslimin dunia yang belum mengenal madzhab Ahlul Bait ini yang mempertanyakan, mengapa orang-orang Syiah tiap tahun mengenang peristiwa tragis ini? Mengapa kematian sekelompok orang yang sudah berlalu sekian abad dari zaman kita masih terus ditangisi? Mengapa perasaan benci terhadap para pembantai keluarga Nabi masih dipelihara oleh orang-orang Syiah? Bukankah kita sebagai seorang muslim sudah seharusnya melupakan masa lalu dan memaafkan segala kesalahan mereka?

Sejak Imam Husein a.s. gugur di Karbala dan kepemimpinan atas ummat Islam atau imamah berpindah tangan kepada puteranya Imam Ali bin Husein As-Sajjad a.s, mengenang peristiwa pahit Karbala itu sudah diperintahkan oleh para imam. Dalam berbagai kesempatan, para imam selalu meminta para penyair dan orator terkenal di zamannya untuk membacakan kembali berbagai kisah yang berlangsung pada tanggal 10 Muharam tahun ke-61 Hijriah tersebut. Kita bisa mengemukakan sejumlah hal yang menyebabkan para imam sampai menyuruh para pengikutnya agar menghidupkan terus peristiwa Karbala dalam ingatan mereka.

Pertama, peringatan Asyura bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang mendambakan keadilan untuk melakukan gerakan kebangkitan. Sebagaimana yang tercatat dalam sejarah, situasi represif yang ada pada zaman khilafah Yazid bin Mua’awiyah sudah sedemikian buruknya sampai-sampai, saat menerima ancaman dari Yazid agar membaiatnya sebagai khalifah, Imam Husein mengatakan, “Kita harus melupakan Islam untuk selama-lamanya jika kaum muslimin harus diperintah oleh orang semacam Yazid”.

Berbagai ciri-ciri masa jahiliah yang hendak dikembalikan lagi oleh Bani Umayyah mencapai klimaksnya pada zaman pemerintahan Yazid. Saat itu, Islam betul-betul tinggal nama. Sedangkan perilaku keseharian yang dipraktikkan oleh mereka yang mengaku sebagai pemimpin ummat Islam sudah sangat mirip dengan perilaku para tokoh Qureisy di zaman jahiliah dulu. Fanatisme terhadap kaumnya sendiri, taklid buta, dibuangnya rasa kemanusiaan, dan dicampakkannya ilmu pengetahuan sudah menjadi perilaku sehari-hari kalangan istana Syam tempat Yazid memerintah. Hal itu sangat terasa kontras dengan masa beberapa dekade sebelumnya, saat pemerintahan Islam langsung dipegang oleh Rasulullah SAWW.

Kembalinya masa gelap jahiliah kepada kehidupan masyarakat adalah sebuah proses sejarah yang terus berulang dengan instrumen yang berbeda-beda. Di setiap saat, selalu saja ada gerakan yang dilakukan orang-orang jahat untuk mengembalikan masa jahiliah. Dari sini, panji kebangkitan Asyura yang dipancangkan oleh Imam Husein a.s. akan menjadi inspirasi yang tiada habisnya bagi para pendamba keadilan. Mereka bisa melihat bahwa penegakan keadilan itu harus dilakukan meskipun itu berarti hilangnya nyawa diri sendiri dan sejumlah besar keluarga.

Di depan pasukan Ibnu Ziyad yang kemudian menjadi pasukan pembantainya di Karbala, Imam Husein mengatakan demikian.

“Wahai ummat Islam, dengarlah kata-kataku. Aku pernah mendengar kakekku, Muhamad SAWW, berkata bahwa selalu saja ada pemimpin yang mengaku bergama Islam tetapi berperilaku represif. Ia merobek-robek janji yang telah dibuatnya dengan Allah. Ia menentang sunnah Rasululllah. Ia juga memerintah dengan cara-cara kejam dan maksiat. Siapapun yang melihat pemimpin semacam itu tetapi ia tidak melakukan perlawanan dengan tindakan maupun hanya sekedar kata-kata, maka Allah akan membangkitkannya kelak di hari kiamat bersama pemimpin yang zhalim tersebut”.

Peristiwa Asyura juga memberikan inspirasi kepada para pejuang keadilan bahwa dalam pandangan Allah, kemenangan yang hakiki terkadang tidak bisa tampak pada hal-hal yang sifatnya lahiriah. Pada peristiwa Asyura, Imam Husein dan sahabat-sahabatnya malah terbantai. Akan tetapi, kekalahan secara lahiriah itu malah merupakan sebuah kemenangan hakiki. Dalam Islam, kemenangan hakiki akan diperoleh ketika seseorang mengalahkan hawa nafsu dan bisikan setan hingga ia mampu melaksanakan perintah Ilahi.

Tentu saja harus kita ingat bahwa secara lahiriah pun, Imam Husein dan sahabat-sahabatnya sebenarnya bisa disebut memperoleh kemenangan. Hanya saja, kemenangan itu bersifat politis yang bisa tampak dari situasi yang tercipta setelah peristiwa Karbala itu terjadi. Kaum muslimin yang selama ini tertipu oleh konspirasi-konspirasi licik lingkaran elite politik Bani Umayah, sejak syahidnya Imam Husein di Karbala, mulai sadar dengan ketertipuannya. Saat itu pertanyaan-pertanyaan kritis mulai mengemuka: bagaima mungkin seorang yang mengklaim diri sebagai khalifah kaum muslimin, akan tetapi berani membantai keluarga Rasulullah? Posisi politis Yazid dan antek-anteknya betul-betul hancur begitu Imam Husein gugur di Karbala.

Yang juga tidak boleh dilupakan dari kekalahan Imam Husein secara militer adalah fakta bahwa secara teoretis memang tidak mungkin mengharapkan Imam Husein dan 72 sahabatnya bisa menang melawan pasukan Ibnu Ziyad yang jumlahnya mencapai puluhan ribu. Seandainya kekuatan kedua pihak berimbang atau minimalnya tidak timpang, bisa dipastikan bahwa Imam Husein akan meraih kemenangan secara militer. Dalam pertempuran yang lebih pas untuk dikatakan pembantaian itu, jumlah tentara Ibnu Ziyad yang tewas pun sangat banyak.

Inilah yang bisa kita saksikan dari kebangkitan revolusi Islam di Iran pimpinan Imam Khomeini. Kaum revolusioner Iran mampu menumbangkan rezim despotik Syah dengan menyandarkan inspirasi mereka kepada perjuangan revolusioner Imam Husein di Karbala. Sejarah mencatat bahwa perlawanan fisik Imam Khomeini dan sahabat-sahabat mulai menggelegak sejak Imam ditahan oleh pihak keamananan kerajaan pada tanggal 5 Juni 1963, dan itu hanya terjadi tiga hari setelah para ulama Iran menyerukan peringatan duka Asyura secara nasional.

Dari Libanon selatan, para pejuang Hizbullah juga berhasil mengusir tentara penjajah Israel yang didukung oleh peralatan militer super canggih. Para pejuang Hizbullah yang mayoritasnya bermadzhab Ahlul Bait itu mengaku bahwa secara mental, mereka tidak pernah kelelahan ketika memperjuangan sesuatu yang sangat berat itu, karena menurut mereka, hal yang jauh lebih berat pernah di ditanggung oleh panutan mereka, yaitu Imam Husein a.s. dan sahabat-sahabatnya di Karbala.

Para pejuang keadilan akan memiliki ketahanan mental dan tidak akan mengenal lelah dalam perjuangan mereka jika mereka menghidupkan terus peristiwa Asyura dalam benak mereka. Setiap detik dari peristiwa yang terjadi di Karbala adalah elegi kepiluan yang sangat sulit ditandingi oleh peristiwa apapun di sepanjang sejarah ummat manusia. Karena itu, ketika berhadapan dengan hal-hal yang sangat sulit sekalipun, seorang pejuang yang terus menghidupkan Asyura dalam benaknya tidak akan pernah merasa putus asa karena yang dialami oleh Imam Husein dan keluarganya di Karbala akan tetap jauh lebih sulit dibandingkan dengan yang dialaminya.

Para veteran perang Iran akan selalu mengisahkan heroisme yang mereka gelar dalam perang melawan tentara Saddam dengan menyebut-nyebut kepiluan tragedi Karbala sebagai inspirasi tiada habisnya hingga mereka bisa resisten di hadapan kesulitan-kesulitan yang menghadang. Seorang veteran perang Iran pernah menceritakan kesulitan yang dihadapinya ketika selama tiga hari berturut-turut dikepung pasukan Saddam. Saat itu, ia dan dua orang rekannya berada di sebuah pos penjagaan Khurramshahr yang sudah ditinggalkan oleh tentara Iran lainnya. Kemungkinan besar, para tentara Iran yang lain mengira bahwa ia dan dua rekannya sudah gugur ditembak tentara Irak. Selama tiga hari terjebak di pos penjagaan itu, ketiga tentara Iran tersebut diteror oleh tentara Irak dengan dengan cara yang sangat tidak manusiawi. Simaklah penurutan sang veteran perang.

“Ketika tentara Saddam datang, kami sedang berada di sebuah pos penjagaan, sebuah ruangan kecil berukuran 1 x 2 meter. Mereka langsung mengepung pos dari berbagai arah. Saluran listrik dan air yang tadiya terhubung ke pos penjagaan mereka putus. Mereka kelihatan sekali ingin menyiksa kami, karena kalau mau, mereka dengan mudah mengebom pos penjagaan hingga kami bisa mati seketika. Tetapi yang mereka lakukan hanyalah melakukan tembakan-tembakan ke arah tembok pos penjagaan. Mereka lakukan semua itu sambil tertawa-tawa mengejek. Mungkin yang mereka inginkan adalah kami melakukan bunuh diri karena tidak kuat dengan situasi yang ada”.

“Situasi kami memang sangat sulit. Selama 72 jam kami bertiga berada di sebuah ruangan kecil tanpa makanan dan minuman. Kami bahkan tidak bisa buang air di tempat lain karena sedikit saja kami memperlihatkan anggota badan kami, tentara Irak itu akan segera menembaki kami. Kami akhirnya berhasil lolos setelah datang bantuan dari rekan-rekan kami. Mereka yang kini mendengar penuturan saya mengenai kesulitan yang kami hadapi saat itu mungkin akan menganggap kami sebagai perjuangan yang sangat berat. Namun, sebenarnya tidak demikian. Penderitaan kami tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan siksaan yang dialami oleh Ali Al-Ashghar, bayi kecil yang selama tiga hari tidak mendapatkan minuman apapun. Selama tiga hari itu, Ali Al-Ashgar disengat teriknya mentari padang Karbala yang buas. Ketika Imam Husein ingin memberitahukan penderitaan Ali Al-Ashghar kepada pasukan Ibu Ziyad dengan cara mengusungnya di atas telapak tangan, yang diterima oleh Ali Al-Ashghar malah sebuah anak panah yang menembus lehernya hingga ia menjadi anggota kafilah termuda yang gugur dalam peristiwa Asyura”.

Dari penuturan veteran perang Iran tadi, kita bisa melihat betapa sebuah episode dari tragedi Karbala bisa membuat mereka bisa tabah dan bertahan dalam menghadapi penderitaan yang luar biasa. Inspirasi untuk tabah dengan cara mengingat terus tragedi Karbala tentulah tidak akan mungkin bisa diperoleh oleh para veteran perang tadi seandainya Asyura tidak mereka hidupkan dalam benak mereka. Dalam kehidupan sehari-haripun, seorang yang terus mengenang peristiwa Asyura pasti akan mampu bersikap resistan di hadapan segala macam kesulitan hidupnya.

Hal lain yang sering menjadi bahan pertanyaan dari orang-orang yang belum mengenal hakikat madzhab Ahlul Bait adalah terkait dengan masalah mengapa kita harus terus memelihara rasa benci terhadap para pembantai keluarga rasulullah di Padang Karbala yang peristiwanya terjadi belasan abad yang lalu? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa hal yang harus dipahami. Pertama, kebencian terhadap perbuatan buruk haruslah dipelihara terus oleh seorang muslim. Inilah ajaran Al-Quran dan Sunnah Rasul. Kedua, ada makhluk-makhluk tertentu di dunia yang menjadi manifestasi utuh dari perbuatan buruk. Untuk itu, Al-Quran dan Sunnah Nabi juga mengajarkan kepada kita untuk membenci makhluk tersebut. Contoh paling jelas untuk hal ini adalah makhluk bernama Iblis. Sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk memelihara kebencian Iblis dan segala perbuatannya.

Pemeliharan kebencian terhadap keburukan dan simbol keburukan itu diajarkan oleh agama supaya kita tidak tidak terjatuh ke dalam perbuatan buruk itu. Yang menjadi pertanyaan kita sekarang ini, apakah mungkin makhluk yang menjadi simbol perbuatan buruk itu berupa manusia? Dengan kalimat lain, mungkinkah ada manusia yang menjadi simbol perbuatan buruk tersebut sehingga ia dan segala perbuatannya harus kita benci? Dalam sejarah ummat manusia Al-Quran memperkenalkan tokoh-tokoh jahat semacam Qabil (putera Nabi Adam), Namrud, Firaun, dll. Semasa Rasul hidup, Al-Quran juga melaknat sejumlah orang munafik karena perbuatan buruk mereka.

Dari sisi ini, kita bisa mengatakan bahwa pemeliharaan kebencian terhadap perbuatan jahat dan para pelaku perbuatan itu sebagaimana yang digelar oleh para pembantai keluarga Nabi di Padang Karbala bukan hanya tidak bertentangan dengan ajaran agama, melainkan malah sebuah ajaran abadi yang harus terus kita hidupkan. Itu semua karena karakteristik para pembantai keluarga Imam Husein dan sahabat-sahabatnya sama dengan karakteristik manusia-manusia yang dilaknat oleh Al-Quran.

Masalah terakhir yang menjadi pembahasan kita sekarang ini terkait dengan ratapan dan tangisan para pecinta Ahlul Bait saat mengenang peristiwa Asyura. Ada sejumlah kalangan yang mempertanyakan, mengapa tragedi ini sampai harus ditangisi padahal peristiwanya terjadi ratusan tahun silam? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama harus diingat bahwa menangis adalah reaksi refleks seseorang terhadap situasi emosional tertentu yang ada dalam jiwanya. Episode demi episode dalam peristiwa Karbala memang sangat mengiris hati. Karenanya, butiran air yang menetes dari mata seseorang yang tersentuh hatinya ketika mengenang peristiwa Asyura adalah sebuah proses fisiologis yang sangat alami.

Akhir-akhir ini, para psikolog menyodorkan teori tangisan sebagai bentuk katarsis atau pelepasan emosi yang menyumbat, sehingga kondisi emosional kita yang terkadang berubah-ubah karena situasi tertentu bisa kembali seimbang lewat tangisan tersebut. Para psikolog lainnya juga berbicara mengenai butiran air mata yang bisa melembutkan hati. Walhasil, tangisan pada dasarnya bukanlah sesuatu yang buruk.

Ada sejumlah pihak yang menyebut tangisan sebagai simbol kecengengan atau malah simbol ketidakrelaan kita atas kehendak Allah. Pernyataan ini memang bisa dibenarkan dalam sejumlah kasus. Akan tetapi, jika dikaitkan dengan tangisan terhadap peristiwa Asyura, pernyataan tadi menjadi tidak relevan. Menangisi Asyura jelas bukan sebuah kecengengan. Justru kalau ada orang yang mengetahui adanya tragedi dahsyat ini kemudian ia sama sekali tidak bereaksi, itu menunjukkan bahwa hatinya sudah sekeras batu. Meratapi tragedi Karbala juga tidak bisa dikategorikan sebagai ketidakrelaan atas kehendak Allah karena yang tidak direlakan oleh para pecinta Ahlul bait adalah perbuatan bengis Yazid dan tentaranya, yang juga sama sekali tidak diridhoi Allah SWT. (sumber : Irib)

 
 Falsafat Peristiwa  Peristiwa Karbala, Ciri-Ciri, Faktor, dan Tujuannya

Setiap peristiwa besar dan penting, yang dilakukan oleh tokoh-tokoh besar dan penting pula, sudah pasti mengandung pelajaran-pelajaran berharga yang dapat diambil dan dimanfaatkan sebagai contoh teladan bagi kehidupan umat dan bangsa lain. Salah satu peristiwa besar dan penting ini ialah peristiwa yang selalu kita peringati setiap kali datang bulan Muharram, karena peristiwa yang kita peringati itu terjadi pada bulan suci ini. Pada kesempatan kali ini, kami ingin mengajak Anda semua untuk mempelajari secara singkat berbagai hal berkenaan tragedi bulan Muharram yang dikenal dengan tragedi asyura ini

Tak diragukan bahwa kebangkitan asyura, selain memiliki dampak-dampak keagamaan, individual dan sosial, juga memiliki ciri-ciri khusus yang bisa dikatakan tidak terdapat dalam peristiwa-peristiwa lain. Di antara ciri-ciri tersebut ialah:

1--Kristalisasi haq dan hakekat dalam bentuknya yang agung dan abadi

Artinya, kebangkitan Imam Husein beserta sejumlah keluarga dan pengikut setia beliau ini membuktikan bahwa kebenaran dan hakekat masih hidup dan siap bertahan dengan segala bentuk pengorbanannya di hadapan kebatilan dan kezaliman.

2--Dalam tragedi asyura di Padang Karbala ini, kezaliman yang sangat keji dan kesesatan yang sedemikian parahnya, dapat disaksikan dengan jelas dan gamblang.

3--Peristiwa Karbala, menjadi simbol teriakan kaum tertindas di sepanjang zaman.

4--Front Kebenaran dan Front Kebatilan menemukan bentuknya yang sangat utuh dan jelas dalam tragedi ini sehingga setiap orang dapat membedakan dengan mudah, mana kebenaran dan mana kebatilan.

5--Nilai-nilai yang dapat diambil sebagai pelajaran dari tragedi asyura tidak terbatas pada masa dan tempat tertentu. Nilai-nilai tersebut bersifat universal

Lalu apakah kira-kira hal-hal yang mendorong terjadinya peristiwa sedemikian tragis yang menggoreskan lembaran hitam dalam sejarah Islam ini? Penjelasan berikut ini akan dapat memaparkan faktor-faktor terjadinya tragedi asyura ini:

Pertama, terpilih dan naiknya orang-orang yang tidak saleh sebagai pemimpin. Sejak Ahlul Bait Nabi a.s. tersingkir dari hak mereka sebagai penerus kepemimpinan Rasul Allah SAWW terhadap umat Islam, maka yang muncul kemudian ialah para pemimpin yang tidak saleh, yang dapat disaksikan dengan jelas sejak munculnya Muawiyah bin Abi Sufyan. Ialah yang kemudian menjadikan pemerintahan Islam sebagai kerajaan yang kekuasaannya diwariskan secara turun temurun. Di dalam sistem kerajaan, seorang putra raja otomatis akan menggantikan ayahnya, meskipun pada kenyataannya ia tidak memiliki kelayakan sebagai pemimpin. Untuk itulah seringkali muncul pemimpin zalim.

Sejarah manusia menunjukkan secara jelas bahwa pemimpin zalim hanya berpikir untuk mempertahankan kekuasaannya dengan cara apa pun, termasuk dengan cara mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya dan menguasainya sendirian. Di antara cara mempertahankan kekuasaan pemimpin zalim ialah dengan menyebarkan nilai-nilai kezaliman di kalangan para pejabat pemerintahannya bahkan di tengah masyarakat luas. Untuk itulah pemimpin zalim tidak pernah menyukai orang-orang saleh, bahkan menganggapnya sebagai sumber ancaman terhadap kekuasaannya.

Sejarah juga membuktikan bahwa Muawiyah dan anaknya Yazid, serta mayoritas para penguasa Bani Umayyah, yang disusul kemudian dengan para pemimpin Bani Abbasiyah, adalah jenis pemimpin zalim seperti itu. Akibatnya sudah barang tentu menyebarnya dekadensi moral di sebagian besar lapisan masyarakat, terutama di kalangan para pejabat negara. Ketidakadilan, kesemena-menaan, kejahatan dan ketidakamanan menyebar ke mana-mana. Di antara yang paling parah ialah munculnya diskriminasi rasial di kalangan masyarakat muslim, dan meluasnya ideologi-ideologi sesat yang merusak akidah dan keyakinan Islam. Semua itu benar-benar merupakan ancaman serius bagi ajaran Islam yang murni.

Melihat kondisi buruk itu, yang mencapai puncaknya di zaman Yazid bin Muawiyah, maka sejumlah tokoh Kufah, Irak, yang dulu merupakan pengikut Imam Ali a.s. dan Imam Hasan a.s., menulis surat kepada Imam Husein a.s. agar datang ke Kufah untuk memimpin masyarakat Kufah memerangi Yazid. Imam Husein a.s. yang merasa terpanggil untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, memenuhi panggilan masyarakat Kufah ini dan berangkat menuju ke kota bekas pusat pemerintahan ayahanda beliau itu.

Akan tetapi, pihak penguasa, yaitu Yazid yang mencium gerak-gerik penduduk Kufah ini, segera mengirim pasukan militer ke kota ini dan membasmi gerakan tersebut dengan menangkapi, memenjarakan dan membunuhi para tokohnya. Dengan demikian, jadilah Imam Husein a.s. kehilangan pendukung besarnya. Akan tetapi, beliau tetap berniat datang ke Kufah. Yazid yang mengetahui bahwa Imam Husein a.s. tetap bergerak menuju ke Kufah, mengirim bala tentara lengkap untuk mencegah kedatangan beliau ke kota ini.

Terhalang untuk masuk ke kota Kufah, akhirnya rombongan Imam Husein a.s. digiring hingga tiba di sebuah padang pasir bernama Karbala. Ketika datang perintah dari Yazid di Syam, agar Imam Husein beserta rombongannya dibantai, maka terjadilah pertempuran yang sangat tak seimbang, yang kemudian dikenal di seluruh dunia dan di sepanjang sejarah sebagai tragedi Karbala.

* * *

Berikut ini adalah uraian sekilas hasil-hasil yang dicapai oleh revolusi Imam Husein a.s. ini. Di antara yang dapat disebutkan sebagai hasil-hasil kebangkitan Imam Husein a.s. ialah:

1-Terbongkarnya kedok yang menutupi kejahiliyahan dan kezaliman pemerintahan para penguasa pada zaman beliau, dan tereksposnya wajah buruk pemerintahan tiran mereka kepada seluruh masyarakat Islam.

2-Kebangkitan semangat keagamaan dalam menentang para penguasa tiran dan diktator.

3-Revivalisasi ajaran-ajaran Islam yang murni.

4-Kebangkitan kesadaran sejarah dan keteladanan kebangkitan Imam Husein dalam menentang kezaliman bagi umat manusia di sepanjang zaman.

5-Penyadaran umat muslimin akan hak-hak mereka pada para penguasa, serta kewajiban-kewajiban para penguasa terhadap mereka.

6-Dihidupkannya kembali budaya amar ma’ruf nahi munkar di tengah masyarakat Islam.

7-Dihidupakannya kembali sunnah Nabi di kalangan kaum muslimin.

8- Bangkitnya perhatian dan kecintaan rakyat kepada Ahlul Bait Nabi dan keturunan mereka.

9-Penjalinan hubungan emosional dan idiologi antara ummat manusia dan kebangkitan Imam Husein a.s.

Jika kita pelajari dengan baik situasi dan kondisi yang melingkupi kehidupan muslimin di tahun-tahun kebangkitan Imam Husein ini, atau dengan kata lain, jika kita mengetahui dan mengenal siapa itu Muawiyah dan siapa Yazid, anaknya yang kemudian mewarisi kekuasaannya, demikian pula jika kita kenal dengan baik siapa Imam Husein, keluarga dekat dan para pengikut setia yang menyertai beliau ke Karbala, maka akan kita ketahui pula dengan baik, ciri-ciri, faktor, tujuan dan hasil-hasil perjuangan Imam Husein a.s. yang berakhir dengan sangat tragis di Padang Karbala.

Untuk itu mari kita mempelajari sejarah peristiwa Karbala ini dengan sebaik-baiknya. Sisihkan sedikit waktu untuk mempelajari kehidupan Imam Husein dan perjuangan beliau ini. Waktu yang berjalan detik demi detik di Karbala, semuanya memberikan pesan dan petunjuk. Tiap wajah di Karbala mengekspresikan suatu pesan. Di Karbala, manusia terbagi dua kelompok dan masing-masing memainkan perannya. Yang satu memerankan kebaikan dan keindahan, sedangkan yang lain memerankan kejahatan dan keburukan. Masing-masing telah memainkan peran mereka dengan sangat sempurna. Tragedi Karbala adalah cermin bagi semua manusia. Setiap orang dapat menyaksikan gambaran dirinya di Karbala

Pemisahan antara hak dan batil, antara iman dan kufur, antara keindahan dan keburukan, terulang kembali di Karbala dengan bentuknya yang paling gamblang dan spektakuler. Inilah di antara tujuan besar yang hendak dicapai dengan pengorbanan cucu-cucu Rasul SAWW dan sejumlah pengikut setia mereka. Imam Husein menyaksikan bahwa ajaran suci Islam berada dalam ancaman kehancuran oleh ulah para pemegang kekuasaan duniawi yang serakah. Segala usaha telah dilakukan tetapi tidak membuahkan hasil. Di satu sisi, beliau menyaksikan kezaliman para penguasa yang semakin merajalela. Sementara dari sisi lain umat Islam semakin tenggelam dalam tidur lelap yang melenakan.

Untuk itu diperlukan sebuah ledakan besar yang akan mencabut akar-akar kezaliman para penguasa tiran, dan membuyarkan tidur lelap yang melenakan mata hati umat muslimin. Kepada para penguasa zalim harus dikatakan bahwa kekuatan kebenaran masih belum lenyap; dan kepada rakyat harus dikatakan bahwa kekuatan penuntut keadilan masih tegak dan harus tetap ditegakkan. Pengorbanan Imam Husein a.s. beserta keluarga dan pengikut setia beliau telah berhasil mencapai tujuan tersebut. Hingga kini, kita masih dapat menyaksikan kebenaran dan keadilan dan tegaknya ajaran-ajaran Islam yang murni. Disadari atau tidak, semua itu adalah berkat pengorbanan dan perjuangan yang dipimpin oleh Imam Husein yang berakhir di Padang Karbala.

Assalamu ‘alaika yaa Abaa Abdillah wa ‘alal arwaahil ladzii hallat bifinaa-ik.

Assalamu ‘alal Husein….wa ‘ala ‘Aliyyi ibnil Husein ….wa ‘alaa awlaadil Husein wa ‘alaa ashaabil Husein…..laa ja’alahullaahu aakhirol ‘ahdi minnii liziyaratikum.  (Irib)

 
 Revolusi AL-HUSEIN: Menjaga Risalah Muhammad  Oleh: Imam Khomeini)
Imam Husein as. telah mengajarkan kepada kita apa yang harus dilakukan terhadap kedzaliman dan pemerintahan yang tiran. Imam tahu bahwa memilih jalan ini akan mengorbankan keluarga dan para sahabatnya, pun beliau tahu betul akan pengaruh serta dampak pilihannya itu. Berkat kebangkitan Imam Husein, wajah asli Yazid bin Muawiyah dan orang-orangnya tersingkap.

Sejak awal, Yazid dan pengikutnya telah menginjak-nginjak nilai-nilai Islam, menyimpan kedengkian dan permusuhan terhadap Islam dan para pemimpin Islam.
Di sini, pengorbanan Imam Husein berhasil menghancurkan dinasti Bani Umayyah. Berikutnya, kaum muslimin mulai menyadari betapa besarnya musibah yang menimpa mereka. Musibah inilah yang kemudian menggulingkan pemerintahan Bani Umayyah.

Imam Husein as. juga mengajarkan kepada kita bahwa inilah jalan yang harus ditempuh oleh para pengikutnya. ?Kalian jangan takut karena jumlah kalian sedikit?. Kuantitas itu tidak akan berpengaruh. Kualitas kesiapan dan jihad lah yang akan menentukan. Mungkin saja jumlah suatu kelompok itu besar, namun mereka kehilangan nilai kualitas. Sebaliknya, ada kelompok yang berjumlah sedikit dan mampu menunjukkan kualitas mereka.

Pada jaman itu, beberapa saat setelah kesyahidan Imam Husein as, sebagian orang yang jahil mempropagandakan bahwa beliau adalah pemberontak yang melakukan makar terhadap pemerintahan yang berdaulat. Meski begitu, cahaya Ilahilah yang tetap memancar dan menerangi dunia.

Lalu, apakah tugas ulama, khatib dan lapisan rakyat lainnya di bulan Muharam yang suci ini? Imam Husein as. bersama keluarga dan para sahabatnya telah menjelaskan tugas itu kepada kita, yaitu berjuang di tengah medan dan berdakwah di luar medan. Sejalan dengan pengorbanan Imam Husein as. di medan jihad yang bernilai di sisi Allah dan berperan dalam kesuksesan misi beliau, khotbah-khotbah Imam Sajjad as [2] dan Siti Zainab [3] pun mengambil peran dengan nilai yang nyaris sama atau bahkan sebanding dengan pengorbanan Imam Husein as.

Orang-orang suci ini menjelaskan kepada kita bahwa dalam menghadapi kedzaliman, baik laki-laki maupun wanita, tidak boleh ada yang merasa takut. Di hadapan Yazid, Siti Zainab berdiri dengan tegas dan tegar, tetapi merendahkan diri sedemikian rupa di hadapan khalayak. Citra buruk Imam Husein as dan Ahlul Bait yang diupayakan oleh Bani Umayyah menjadi pudar dan hilang berkat pidato-pidato Imam Sajjad as dan Siti Zainab di Syam serta Kufah.

Saat ini, negara Islam buah dari revolusi Imam Husein as juga menghadapi masalah serupa. Badan Amnesti Internasional yang lebih tepat disebut sebagai ?Badan Pemalsu Internasional? atau ?Badan Pembohong Internasional?, mengeluarkan pernyataan yang memuat tuduhan-tuduhan terhadap Republik Islam Iran, persis dengan tuduhan musuh-musuh Islam terhadap Rasulullah, keluarga 'Ahlulbayt' dan para pengikutnya di masa-masa awal Islam. Orang akan merasa malu tatkala ia hidup di dunia yang di dalamnya media massa dan organisasi sebesar Badan Amnesti Internasonal itu membual kebohongan. Orang akan menilai sebuah kebejatan ketika ia hidup di jaman yang di dalamnya nilai-nilai kemanusiaan dikorbankan demi kepentingan kekuatan adidaya yang hanya mementingkan materi belaka. Sangat disesalkan bahwa sekarang ini kita dihadapkan pada bencana semacam ini.

Seberapa besar dan agungnya tujuan seseorang itu, sebesar itu pula kesusahan yang harus ia tanggung. Kita sendiri pun masih belum tepat mengukur seberapa besar kemenangan kita. Kelak, dunia akan mengerti prestasi kemenangan kita ini. Namun begitu, semakin besar kemenangan ini, sekadar itu pula besarnya musibah dan cobaan kita. Kita tidak boleh lalai, lalu berharap bahwa musuh-musuh kita akan membiarkan kita, tidak lagi berusaha melenyapkan kita.

Perjuangan pengikut Husein saat ini harus seperti perjuangan pada awal revolusi. Tugas para ulama, khatib Jum'at dan imam Jamaah maupun orang-orang yang hendak berbicara dengan masyarakat, ialah menerangkan kepada mereka hakikat dan tujuan perjuangan Imam Husein as. serta apa yang telah dikorbankannya demi perjuangan itu sampai akhir, meski sebenarnya perjuangan beliau belum berakhir, dan akan terus berlanjut.

Kita semua, khususnya para penceramah, harus sadar bahwa kalau bukan karena kebangkitan Imam Husein as, sesungguhnya kita tidak akan menang dalam revolusi. Persatuan rakyat yang merupakan sumber kemenangan (revolusi) kita muncul berkat acara-acara duka memperingati Asyura. Acara-acara ini efektif sebagai lahan dakwah Islam. Imam Husein as, penghulu para syahid kita, telah menyiapkan sarana bagi rakyat supaya mereka bisa berkumpul tanpa ada kesulitan. Masjid-masjid menjadi basis perjuangan rakyat. Dari sanalah asas-asas kemenangan Revolusi dirintis dan dibangun.

Selain itu, Imam Husein as. telah mengajarkan kepada kita apa yang harus dilakukan di dalam dan luar medan pertempuran; apa yang harus dilakukan oleh mereka yang berjuang dengan senjata, dan apa yang harus didakwahkan oleh mereka yang berada di garis belakang. Beliau ajarkan bagaimana cara sebuah kelompok yang kecil jumlahnya menghadapi kelompok yang besar jumlahnya. Keluarga beliaupun mengajarkan kepada kita apa yang dilakukan setelah musibah itu terjadi. Apakah kita harus menyerah? Ataukah kita turunkan perlawanan kita? Ataukah kita harus menapaki jejak Siti Zainab as. yang senantiasa tegar di tengah musibah yang tiada bandingnya itu dan berbicara lantang di hadapan kekufuran dan menyingkapkan kebenaran? Atau seperti Imam Sajjad as. yang dalam keadaan sakitnya tetap melakukan dakwah meneruskan misi ayahnya?

 

Peran Acara-acara Asyura dalam Kebangkitan Rakyat


Dulu, orang munafik selalu katakan bahwa kita adalah bangsa cengeng, supaya kita meninggalkan majlis-majlis Asyura. Majlis-majlis Asyura ini dibubarkan oleh orang-orang yang justru hadir di dalamnya. Apakah pembubaran ini karena majlis-majlis itu sendiri, atau karena mereka tahu betapa pengaruhnya seperti sekarang ini hingga mereka larang penyelenggaraannya? Masalah pelarangan dan pembubaran ini sama halnya dengan pelarangan memakai serban, karena mereka tahu bahwa serban dan majlis duka ini akan menjadi penjegal kepentingan dan maksud mereka.

Di bulan Muharam ini, ketika sebuah bangsa berkumpul guna memperingati kesyahidan Imam mereka, jangan kalian kira bahwa mereka datang hanya untuk menangisi Imam Husein as. Beliau sama sekali tidak butuh pada tangisan kita. Tangisan itu tidak berpengaruh (untuk pribadi beliau, peny.). Bahwa rahasia majlis-majlis ini menyatukan mereka dan mampu membangun persatuan di antara mereka. Di dua bulan suci ini (Dzulhijjah dan Muharam, pent.), khususnya hari Asyura, jutaan orang berkumpul dan menyerukan hal yang sama. Dalam bulan Muharam ini, para ulama dan khatib dapat memobilisasi rakyat dan menghimpun mereka untuk satu tujuan. Sisi politis majlis-majlis ini lebih kuat ketimbang sisi-sisi lainnya. Para Imam maksum as. tidak sembarang -waliyadzubillah- menyuruh kita untuk berkabung mengenang musibah mereka. Bukan sebuah omong kosong bahwa kita akan mendapatkan pahala saat kita menangis, membuat orang menangis, atau pura-pura menangis sekalipun, demi memperingati musibah para Imam kita.

Inti masalah Asyura bukan menangis atau pura-pura menangis, tapi muatan politis yang ada pada majlis-majlis itu. Melalui majlis-majlis ini, para Imam as. hendak menyatukan pengikut-pengikutnya dan menggerakkan mereka untuk bangkit. Kebanyakan perkara dalam Islam bermuatan politis. Perkumpulan-perkumpulan yang sebagiannya diwajibkan atau di-mustahab-kan, semua itu adalah perkara-perkara politik. Salah satunya ialah haji. Di Mekkah, jutaan muslimin berkumpul untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan Allah atas mereka. Ini bukan berarti Allah membutuhkan ibadah kita. Dia mewajibkan haji supaya muslimin berkumpul di satu tempat dan membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan Islam.

Sayangnya, karena ketidaktahuan kita, umat Islam memang berkumpul di Mekkah, tapi tidak tergerak untuk mendiskusikan masalah-masalah mereka. Alhamdulillah, sekarang kondisinya lebih baik. Alangkah baiknya bila negara-negara muslim itu sedikit mau bersusah payah; memberangkatkan sebagian rakyatnya untuk ibadah haji hingga mereka bisa berkumpul bersama saudara muslim lainnya. Muatan politis dalam muktamar besar umat Islam di haji adalah mereka saling berkenalan dengan yag lain, mengetahui persoalan masing-masing dan mencoba untuk mencari jalan keluarnya.

Kalaulah umat Islam menunaikan ibadah haji itu sesuai dengan ruhnya, tentu mereka tidak akan menemui berbagai problema seperti sekarang ini. Alangkah baiknya bila negara-negara ini memahami hikmah pertemuan rakyat mereka di Mekkah dan tidak tunduk pada kekuatan-kekuatan besar dunia. Semestinya, mereka paham bahwa memerintah rakyat yang sadar masih lebih baik daripada memerintah rakyat yang tidak tahu apapun. Menanggung musibah karena menentang kediktatoran lebih baik ketimbang hidup senang dalam perbudakan.

Kalau saja mereka sadari hal ini, mereka akan permudah urusan haji bagi rakyat mereka hingga ibadah haji berlangsung lebih baik lagi daripada sekarang. Atau, mereka sendiri yang pergi haji dan duduk bersama pemimpin-pemimpin negara lain guna membicarakan jalan keluar persoalan mereka. Bila hal ini terwujud, niscaya Islam akan menjadi satu kekuatan dunia yang tak tertandingi.

Selain haji, ada hari raya Ied; satu momentum lain bagi muslimin untuk berkumpul dan bersatu. Begitu pula halnya shalat Jumat yang di dalamnya dibicarakan berbagai masalah terkini.

Masih ada lagi shalat-shalat Jamaah di masjid yang memungkinkan umat Islam untuk berkumpul. Namun, harus diusahakan supaya masjid tidak hanya dipenuhi oleh orang-orang tua, tapi anak-anak muda juga harus bergabung bersama mereka di sana. Kalaulah kita sadari betapa banyak masalah politik yang bisa diselesaikan dalam perkumpulan-perkumpulan seperti ini, kita tidak akan lagi santai seperti sekarang dan membiarkan masjid-masjid itu hanya disesaki orang-orang tua. Bulan-bulan Muharam, Shafar dan Ramadhan menyediakan banyak berkah yang tak terhitung. Berkumpulnya rakyat untuk mengenang Imam Husein as. tetap memiliki berkahnya yang khas, meskipun masalah-masalah politik tidak diungkapkan di dalamnya.

 

Upaya-upaya Anti Syiar Islam


Pada jaman ini, kita lebih membutuhkan majlis-majlis ini lebih dari sebelumnya. Jangan sampai kita dihasut oleh sebagian orang agar kita mengeluarkan uang demi membiayai perang atau korban perang. Memang benar bahwa kita harus memperhatikan para korban perang dan menghargai jerih payah mereka selama perang. Namun, bukan berarti kita harus konsentrasikan diri kita pada hal ini saja dan melalaikan yang lain. Sekali lagi saya tekankan, sekarang kita lebih memerlukan majlis-majlis takziyah (berkabung) lebih dari dahulu. Pawai-pawai Asyura ini telah memiliki warna politis dan hal ini memang benar adanya.

Ketika jutaan orang berkumpul memperingati kesyahidan Imam Husein as. dan di sana para penceramah membicarakan isu-isu terkini, di sinilah revolusi. Maka itu, kita perlu syiar Ilahi. Sebagian orang sering katakan bahwa karena kita sudah sukses dalam Revolusi, maka itu kita tidak lagi perlu peringati Asyura. Ini sama saja kita tidak perlu shalat lagi setelah kita menang dalam Revolusi. Justru kita lakukan revolusi demi menegakkan shalat dan syiar-syiar Islam lainnya, bukan untuk meruntuhkannya.

Menjaga Asyura tetap hidup adalah tugas politis-ibadah. Berkabung untuk orang yang telah berkorban demi Islam berperan besar dalam memajukan Revolusi. Kita sangat berhutang budi pada majlis-majlis duka ini serta takbir-takbir yang diserukan di sana. Kita tidak berkumpul dalam majlis-majlis ini untuk sekedar menangis. Tangisan kita adalah tangisan politis. Air mata kita akan menghancurkan segala hal yang membendung laju Islam. Dahulu pun mereka berkumpul meratapi kekalahan Iran dari Islam. Kalau memang tangisan itu bermasalah, kenapa mereka tangisi kegagalan usaha mereka untuk memenangkan Majusi atas Islam?

Sebagian orang tidak menginginkan kita menangisi seorang syahid Islam. Mereka mempermasalahkan tangisan kita. Mereka tidak ingin kita menghidupkan sebuah peristiwa yang menghancurkan penguasa jaman itu. Mereka tidak menghendaki kita menjadi seperti para syahid Karbala. Mereka dikerahkan untuk mempropagandakan hal ini dan sayangnya, sebagian orang malah tertipu oleh mereka. Para pemuda hendaknya sadar bahwa semua propaganda anti syiar Islam berasal dari musuh-musuh Islam dan disebarkan oleh antek-antek mereka. Rahasia apa yang ada di balik serban dan majlis duka ini hingga mereka berambisi melenyapkannya?

Sesungguhnya majlis-majlis ini adalah pemersatu umat. Mereka takut para penceramah bicara di tengah rakyat dan menyatukan mereka menentang penjajahan. Inilah yang mereka takutkan. Sekedar kita hadir untuk menangis tidak membuat mereka kuatir, selama minyak kita dapat mereka ambil lalu kita diam saja. Yang mereka kuatirkan ialah dampak politis majlis-majlis ini.

Mereka yang percaya diri sebagai cendekiawan jangan berpikir bahwa majlis-majkis semacam ini sudah tidak berarti lagi. Sebaliknya, tangisan-tangisan inilah yang melancarkan kerja kita dan menyadarkan rakyat. Kita harus mengambil pelajaran dari pelarangan Ridha Khan terhadap penyelenggaraan majlis Asyura. Ia larang majlis Asyura karena majlis ini bertentangan dengan kepentingannya. Ia menentang ulama karena mereka membahayakannya. Begitu pula halnya ketika ia menentang universitas. Ia baru menyetujui universitas yang seiring dengan kemauannya dan para alumnusnya bekerja untuk kepentingannya.

Di jaman ini, kekuatan besar dunia menentang semua lambang keislaman bangsa kita. Propaganda mereka lebih berbahaya dibanding ancaman perang mereka. Di sini kita harus serius menghadapinya. Bangsa yang siap untuk syahid dan memandang kesyahidan sebagai sebuah kemuliaan, tidak pernah merasa takut perang. Lagi pula, ketika perang terjadi, rakyat kita akan lebih sadar dan gairah. Kalian lihat, perang ini (perang Iran-Irak, pent.) kembali menghidupkan Iran dan membakar semangat Revolusi. Meskipun mulanya kita pikir bahwa perang ini merugikan, tapi ia juga membawa sisi positif.

Memang kita banyak kehilangan anak-anak muda kita dalam perang ini. Namun, demi tegaknya Islam, tidak ada yang perlu ditakuti. Yang harus dikhawatirkan adalah propaganda-propaganda mereka untuk meliburkan majlis-majlis Asyura.

Rakyat harus bersungguh-sungguh menjaga syiar-syiar Islam, khususnya Asyura ini. Makna sabda Rasulullah saww. ? Aku bagian dari Husein ? adalah bahwa agamaku tetap hidup karena dia. Semua karunia ini berasal dari syahadah beliau. Bani Umayyah bertekad untuk melenyapkan Islam dari muka bumi dan mendirikan kerajaan Arab. Dengan syahadahnya Imam Husein as, umat Islam sadar bahwa permasalahannya bukan antara Arab dan non-Arab, tapi antara Islam dan kekufuran.

Oleh karena itu, jagalah acara-acara Asyura ini baik-baik. Sesungguhnya acara seperti ini menghidupkan Islam dalam hati kalian. Jagalah shalat Jamaah, shalat Jumat, hari-hari besar Islam dan syiar-syiar di dalamnya. Para ulama dan penceramah harus membimbing rakyat dalam masalah-masalah sosial-politik Islam dan jangan lupakan majlis-majlis takziyah ini, karena dengannya kita akan tetap hidup.

Islam telah diperjuangkan dengan sepenuh jiwa Rasulullah saww, Keluarga dan para sahabatnya. Ia datang dari sisi Allah dan ini harus kita jaga. Seandainya -wal`iyadzubillah- kemenangan kita berubah menjadi kekalahan lantaran kelalaian kita, ketahuilah bahwa Islam tidak akan kembali tegak hingga berabad-abad nanti. Ini adalah tugas besar yang harus kita terima. Akhir jalan ini adalah syahadah dan berjumpa dengan Sayyid Al-Syuhada Al-Husein as serta manusia-manusia seperti beliau. Ini adalah puncak harapan semua pecinta Allah.

Kita dengar bagaimana para pemuda juang kita beribadah dengan khusuk di malam hari dan berjihad penuh semangat di siang hari. Ini adalah suatu kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita. Jagalah nikmat ini sebaik-baiknya.

Kalian para ulama yang ada di sini dan di tempat lain bertanggung jawab menjaga dan mensyukuri nikmat Allah ini. Tabligh adalah perwujudan rasa syukur kalian. Kalian harus sampaikan kepada masyarakat asas yang diperjuangkan Imam Husein as, jalan yang ia tempuh dan kemenangan yang ia turunkan untuk Islam. Kalian sampaikan bahwa jalan memperjuangkan Islam adalah apa yang beliau lakukan. Beliau tahu bahwa seorang dzalim yang punya segalanya (dari segi materi) tidak bisa dilawan dengan segelintir orang. Namun begitu, beliau yakin bahwa kesyahidanlah yang akan memenangkan Islam dan memberinya nafas baru. Kematian para syahid mihrab, mulai dari Madani -semoga Allah merahmatinya-4 sampai syahid terakhir kita inilah yang akan menjamin kemenangan kita. Kesyahidan ini akan mempermalukan musuh-musuh kalian di hadapan dunia, meski semua dunia memihak musuh kalian. Dengan semua kebohongannya, Badan Amnesti Internasional pun memiliki bukti yang kuat. Bukti kuat mereka adalah pernyataan kaum munafik (Barisan Mujahidin Khalg, peny.) bahwa kita mencintai kesyahidan.

Ini adalah bulan Muharam dan saatnya kalian harus bertabligh. Hidupkan Muharam ini, karena semua yang kita miliki sekarang berasal dari Muharam dan acara-acara yang diadakan di bulan ini. Kita tablighkan Muharam dan kesyahidan Imam Husein as. Harus kita pahami seberapa besar pengaruh syahadah beliau di dunia sampai sekarang ini. Kalau bukan karena acara-acara duka ini, kita tidak mungkin menang dalam perjuangan kita. Semangat para pejuang kita di medan tempur tetap berkobar karena cinta mereka terhadap Imam Husein as.

Dalam acara-acara yang diadakan di bulan ini, hendaknya para ulama dan penceramah membicarakan masalah-masalah sosial-politik terkini dan menerangkan tugas rakyat dalam menghadapi musuh. Sampaikan bahwa kita masih berada di tengah jalan, dan insya Allah kita akan sampai di akhir jalan ini. Di atas jalan ini, apabila kita tetap konsisten, kemenangan mutlak akan kita dapatkan, tentunya kalau kita tidak lalai dan lengah.

Hanya Allah Pelindung Kita

Di awal revolusi, kita serukan slogan ?Republik Islam, Merdeka, Tidak Barat-Tidak Timur ?. Kita serukan bahwa kita tidak di bawah Amerika, tidak pula di bawah Soviet. Kita hanya berada di bawah lindungan Allah dan panji Imam Husein as. Ketika kalian teriakan ini, tentu dunia akan bangkit menentang kalian.

Sejak awal, harus kalian camkan bahwa tatkala Imam Husein as. bangkit menghadapi sekian banyak musuhnya dan syahid di jalan ini, kita pun harus siap untuk menjadi syahid. Sekarangpun, kalian lihat, meski sebagian imam Jum'at kita diteror, mereka yang masih hidup menyuarakan lantang bahwa mereka akan tetap mengemban tugas mereka dan siap untuk mati. Kita semua harus berjiwa demikian.

Apabila kalian bangkit berjuang demi materi, demi ekonomi, demi kesenangan duniawi, tentu akan banyak orang yang tidak merasa puas. Nyatanya, rakyat tidak pernah mengeluh. Hanya mereka yang tidak dapat menikmati kembali kesenangan materi merasa tidak puas terhadap Revolusi. Sebaliknya, mereka yang bangkit demi Islam tidak punya angan-angan buta dan harapan kosong. Rakyat semacam ini tidak akan pernah merasa lelah. Mereka tidak akan mengatakan, karena kita tidak mampu mendapatkan kesenangan duniawi, maka tinggalkan saja Revolusi. Mereka melihat bahwa harapan mereka, yaitu Islam, telah tercapai.

Sekarang, gelombang revolusi kalian telah menyebar ke penjuru dunia. Dahulu, orang Iran identik sebagai budak Amerika. Hari ini, semua orang akan membenarkan bahwa Republik Islam telah keluar sebagai pemenang, dan kemenangannya akan terus berlanjut.

Optimis terhadap Rahmat Allah!

Saudara-saudara sekalian, ?Jangan putus asa dari rahmat Allah?5. Dengan inayah Allah, kalian akan menang di dunia ini. Kalian adalah bangsa pejuang. Bangsa yang tidak bisa melakukan apa-apa, niscaya terlantar, menyendiri. Amerika, Soviet atau kekuatan lainnya akan takut pada bangsa seperti ini. Dahulu, mereka perlakukan rakyat seperti domba yang mereka perah dan potong-potong.

Memang benar sebagian orang dapat mengenyangkan perut mereka, tapi bagaimana dengan orang-orang miskin? Kebanyakan rakyat kita berada di bawah garis kemiskinan, tidak mendapat perhatian sama sekali. Sekarang, dalam waktu yang singkat ini, mereka mendapatkan perhatian lebih daripada waktu itu. Namun, hal ini bukan alasan dan tujuan kebangkitan kalian. Ini hanyalah sebuah berkah Revolusi. Yang kalian inginkan ialah Islam. Yang kalian harapkan ialah kemerdekaan dari belenggu Barat dan Timur, dan ini telah kalian capai. Untuk itu, jagalah hasil jerih payah kalian ini.

Sekarang, sebagian orang percaya bahwa kita harus pilih Barat atau Timur. Tapi, rakyat sudah tidak lagi menerima hal ini, karena sejak awal kebangkitan, mereka ingin merdeka dan bebas dari keduanya. Setelah darah anak-anak mereka tumpah di jalan ini, apakah mereka bersedia berbalik ke belakang? Tidak, mereka tidak akan lakukan hal ini dan akan tetap teguh di jalan mereka.

Jangan lupa bahwa kalian telah unjuk kekuatan di hadapan dunia. Semua dibuat bingung bagaimana cara menghadang kekuatan kita. Sebelum ini, belum pernah sebuah kelompok kecil mampu memamerkan kekuatannya melawan kekuatan-kekuatan besar dunia.

Kalian telah hidupkan Islam dan kalian bertanggung jawab untuk menjaganya. Mulai dari para marjie (mujtahid) sampai talabeh (pelajar agama) yang baru memulai, semua berkewajiban untuk melindungi Islam. Para penceramah bertanggung jawab untuk membangunkan rakyat melalui khutbah-khutbah mereka. Para ulama dan imam Jamaah hendaknya bergabung bersama rakyat di pos-pos mereka. Alhamdulilah, rakyat pun selalu siap dan kita patut berterima kasih kepada mereka.

Sejujurnya, kita benar-benar berhutang budi kepada mereka yang telah memberikan apa yang mereka miliki dan tidak meminta balasan dari kita, mulai dari wanita-wanita tua yang memberikan apa yang mereka simpan selama hidup, sampai orang-orang yang memecahkan celengan mereka demi Islam, semua turut serta dalam perjuangan.

Saya tidak mampu untuk menghargai mereka sepenuh-penuhnya. Saya hanya bisa berharap semoga Allah selalu memberikan inayah-Nya kepada mereka. Dan, semoga Allah melindungi kalian semua, sehingga kita dapat menjaga majlis-majlis duka Imam Husein ini dengan semestinya. Wassalamu`alaikum wa rohmatullah wa barokatuh.[]

--------------------------------------------------------------------------------
[1] Disadur oleh Alam Firdaus, dari Sahifeh-e Nur, Intisyarat sahami Chapkhaneh Wizarate Islami, Tehran, 1362 HS, ceramah 25 Mehr 1361 HS/ 29 Dzulhijjah 1402 HQ.
[2] Imam Ali bin Husein Zainal Abidin as (Putera Imam Husein as , Imam ke-5) dimakamkan di pekuburan Baqi Madinah
[3] Sayyidah Zainab binti Ali bin Abi Thalib (Saudara Imam Husein as)
[4] Syahid Asad Allah Madani, wakil Imam dan imam shalat Jum'at Tabriz yang dibunuh oleh munafiqin di mihrab.
[5] Q.S. Yusuf: 87

(Dikutip dari situs HPI, Qom, www.islamalternatif.com)

 
 Imam Husain dan Air di Karbala  
Oleh: DR. Asqar Furuqi
 
Pendahuluan
Peristiwa Karbala, air dan kehausan merupakan hal yang paling menonjol. Penekanan terhadap air dan rasa haus membuat banyak hal-hal yang ditafsirkan dengan masalah ini. Percakapan yang terjadi antara kedua pasukan yang berhadap-hadapan juga banyak membicarakan masalah air. Air membentuk citra keteraniayaan Imam Husein as dan betapa kejamnya musuhnya.
 
Pentingnya masalah air tidak hanya terbatas pada kejadian sepuluh bulan Muharam. Masalah air dapat ditelusuri jauh sebelum hari kesepuluh, hingga terjadi pembantaian itu. Bahkan bila ingin ditarik lebih jauh lagi, Muslim bin Aqil, berdasarkan sebuah riwayat, dalam perjalanannya dari Madinah ke Kufah, dua pengawalnya mati karena kehausan setelah tersesat beberapa lama.[1] Muslim bin Aqil telah sampai ke Kufah. Dalam kondisi terluka dan tertangkap. Di istana Dar al-Hukumah ia menghembuskan nafas terakhirnya, sekalipun tempat air telah diberikan kepadanya. Hal itu dikarenakan ia banyak mengeluarkan darah dari mulutnya membuat ia tidak sempat lagi merasakan sejuknya air untuk terakhir kalinya. Akhirnya ia dengan bibir kering menjemput kesyahidannya.[2]  
Menjemput syahadah dengan bibir kering memang membuat sedih dan trenyuh hati siapa yang mendengarnya.
 
Demikian juga dalam acara memperingati Asyura, banyak sair-sair yang dibacakan mengenai peristiwa Karbala berkaitan dengan air dan kehausan. Berdasarkan ini, saya berusaha dalam artikel pendek ini, dengan berlandaskan sumber-sumber tepercaya, untuk mengkaji lebih lanjut mengenai masalah air dan kehausan yang dialami oleh Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya. Sebelum masuk pada masalah, ada satu poin penting yang perlu saya ingatkan bahwa dengan berlandaskan pada sumber-sumber yang ada. Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya berusaha untuk mencari air buat keluarganya di tengah kehausan yang hebat mendera. Mereka berusaha untuk menenangkan para sahabat dan keluarganya untuk meningkatkan semangat dalam menghadapi musuh.
 
Air sebagai senjata
Menakjubkan! Manusia sepanjang sejarah menganggap air sebagai benda berharga yang berperan melestarikan kehidupan makhluk hidup. Air membuat manusia gembira, damai dan tenang. Namun, air juga dipakai untuk membunuh manusia dan menghancurkan sebuah komunitas. Air dipakai sebagai senjata untuk membuat jutaan manusia menderita kehausan dan mati. Air mengubah kehidupan menjadi kematian. Dengan ini, bukan hal yang aneh bila air dipakai untuk memusnahkan Islam dan kaum muslimin.
 
Para pemberontak pada tahun 35 Hijriah mengepung rumah Khalifah Utsman bin Affan. Mereka berusaha untuk mencegah Utsman untuk mendapatkan air. Imam Ali as berusaha sekuat tenaga agar Utsman dapat meminum air. Untuk itu diutuslah kedua anaknya; Hasan dan Husein untuk mengantarkan air kepada Utsman.[3] Muawiyah yang masih memiliki permusuhan dengan Islam sejak zaman Jahiliah pada perang Shiffin juga berusaha untuk menggunakan air sebagai senjata untuk melawan pasukan Imam Ali as. Namun, ia terlambat untuk menguasai sumber air. Imam Ali as dengan pasukannya telah terlebih dahulu menguasainya. Imam Ali as tidak melarang pasukan Muawiyah untuk memanfaatkan air yang berada dalam kekuasaannya.[4]
 
Imam Husein as sebagaimana kakek dan ayahnya tidak mempergunakan air sebagai senjata. Lebih dari itu, oleh beliau, air dipakai sebagai alat untuk menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya dan bagaimana hubungan antar sesama muslim. Ketika Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya ditemui oleh pasukan yang dipimpin oleh Hurr bin Riyahi, beliau memerintahkan pasukannya untuk memberikan air yang masih mereka miliki. Hal itu dilakukannya setelah melihat bagaimana pasukan Hurr begitu kehausan. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan, Imam Husein as dengan tangannya sendiri memberi mereka minum.[5]
 
Hal ini berbeda seratus delapan puluh derajat ketika mereka diperintah untuk menghabisi Imam Husein as beserta para sahabatnya. Musuh mempergunakan air untuk menekan pasukan Imam Husein as. Ubaidillah bin Ziyad ketika mengirimkan pesan kepada Hurr memerintahkan agar mereka menggiring Imam Husein as dan rombongan ke padang pasir. Tempat di mana mereka tidak dapat berteduh dan tidak terdapat sumber air.[6]
 
Sesaat ketika Imam Husein as dan rombongan tiba di tanah Karbala, Umar bin Saad mendapat perintah dari Ubaidilah bin Ziyad untuk menghalang-halangi Imam Husein as dan rombongan untuk mendapatkan air. Sekaitan dengan ini, Abu Hanifah Dinwari menulis:
 
“Ibn Ziyad menulis surat kepada Umar bin Saad yang isinya memerintahkannya untuk menghalang-halangi Imam Husein as mendapatkan air. Bahkan lebih dari itu, jangan sampai mereka dapat minum air barang seteguk pun. Hal yang sama telah dilakukan terhadap Utsman bin Affan”.[7]
 
Mendapat perintah itu, Umar bin Saad segera menempatkan Amr bin Hajjaj Zubaidi untuk melakukan tugas ini disertai 500 pasukan berkuda. Pasukan penjaga air ini mulai dari hari ketujuh hingga hari kesepuluh secara serius menjaga pinggiran sungai Furat. Tujuannya adalah jangan sampai Imam Husein as dan rombongan dapat memanfaatkan air.[8] Mereka tidak hanya bertugas menghalang-halangi Imam Husein as dan rombongannya untuk dapat sampai ke sumber air, tapi juga melancarkan perang urat syaraf. Sebagai contoh, Abdullah bin Hashin al-Azdi dari kabilah Bujailah berteriak: “Wahai Husein! Apakah engkau melihat air ini? Bentuknya bak langit yang biru jernih. Engkau tidak akan merasakan seteguk pun dari air ini sampai engkau mampus!”[9] Syimr juga termasuk salah satu dari mereka yang mengolok-olok Imam Husein as dan rombongannya.[10]
 
Sebenarnya, Umar bin Saad tidak hanya menempatkan Amr bin Hajjaj sebagai komandan pasukan penjaga air. Ia memang menugaskan seseorang secara khusus untuk berteriak: “Wahai anak Fathimah dan Rasulullah! Engkau tidak akan mencicipi air ini sebelum kepalamu lepas dari badan atau menyerah dan ikut dengan perintah Ubaidillah bin Ziyad.”[11]
 
Dengan melihat dialog-dialog dan kejadian di atas, dapat disimpulkan beberapa poin penting sekaitan dengan tujuan musuh menghalangi Imam Husein as untuk mendapatkan air barang seteguk:
 
1. Air merupakan salah satu senjata yang dipakai, selain senjata yang sudah dikenal selama ini. Harapannya, dengan menghalangi akses Imam Husein as untuk mendapatkan air, tekanan terhadap mereka lebih kuat dan kekuatan pasukan menjadi lemah. Dengan demikian perlawanan tidak banyak berarti.
 
2. Adanya anak-anak dan wanita dalam rombongan dapat melemahkan kekuatan pasukan Imam Husein as. Dalam perhitungan mereka, wanita dan anak-anak tidak mampu bertahan lama dari rasa haus. Dengan ini, pasukan Imam Husein as bakal menyerah.
 
3. Dialog-dialog di atas menunjukkan bahwa Bani Umayyah masih belum puas dengan usaha mereka sebelumnya. Mereka kembali mengulangi tragedi Utsman bin Affan yang dikepung dan tidak diberi air. Mengungkapkan kembali kejadian itu ingin menunjukkan bahwa Imam Husein as adalah penyebab terbunuhnya Utsman bin Affan. Kehausan Utsman ketika menjelang ajalnya dijadikan alasan untuk mencegah Imam Husein as dan rombongan untuk mendapatkan seteguk air.
 
Usaha Imam Husein as untuk mendapatkan air
Usaha musuh untuk menghalang-halangi Imam Husein as mendapatkan air merupakan sebuah hakikat yang tidak saja diakui oleh sejarawan. Kenyataan ini juga ditegaskan oleh Imam Mahdi af. Dalam doa ziarah Nahiyah Muqaddasah dari beliau diriwayatkan: “Mereka menghalangimu dari usaha untuk mendapatkan air demi menghilangkan dahagamu”.
 
Satu hal yang disepakati oleh semua sejarawan, mulai dari hari ketujuh bulan Muharam, musuh secara serius berusaha untuk menghalang-halangi Imam Husein mendapatkan air. Dengan demikian, rasa haus yang mendera Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya terutama wanita dan anak-anak hanya berhubungan dengan tiga hari terakhir, hari ketujuh hingga hari kesepuluh. Pada hari-hari itulah Imam Husein as berusaha untuk mendapatkan air demi rombongannya, terutama anak-anak dan para wanita.
 
Berdasarkan riwayat Ibn ‘Atsam al-Kufi dan Ibn Syahr Asub disebutkan bahwa Imam Husein as berusaha menggali sumur di depan kemah. Dari sumur tersebut bersumber air yang jernih.[12] Ibn ‘Atsam menjelaskan lebih lanjut:
 
“Karena rasa haus yang sudah tidak terkira menguasai dirinya dan rombongannya, Imam Husein as mulai menggali sumur. Sumur itu tepat di samping kemah para wanita. Dari samping kemah wanita beliau sambil menghadap Ka’bah sekitar 19 langkah beliau menjauh. Di situlah Imam Husein as menggali sumur. Dari sumur tersebut keluar air yang jernih dan tawar. Beliau memerintahkan kepada sahabat-sahabatnya untuk mengambil air dari sumur dan minum. Mereka memenuhi tempat-tempat air yang dibawa. Setelah semua memenuhi tempat airnya dan minum sampai hilang dahaganya, air kemudian tidak muncul lagi bak tertelan bumi. Setelah itu sumur tersebut tidak lagi terlihat.”[13]
 
Penggalian sumur yang dilakukan oleh Imam Husein as adalah hal yang biasa. Apalagi bila hal itu dikaitkan dengan posisinya sebagai Imam. Sumur yang memancarkan air bersih, jernih dan tawar. Ditambahkan lagi dengan adanya riwayat yang menyebutkan bahwa pada masa itu, antara Imam Husein as dan kejernihan air dan berkahnya memiliki hubungan yang sangat erat dan bermakna. Berdasarkan riwayat dari Ibn ‘Asakir, Imam Husein as ketika berangkat dari Madinah menuju kota Makkah, di pertengahan jalan mereka berpapasan dengan Abdullah bin Muthi’. Saat itu, Abdullah bin Muthi’ sedang menggali sumur. Kepada Imam Husein as Ibn Muthi’ berkata: “Sumur yang saya gali ini dapat menyampaikan saya ke air. Saat ini kami sangat membutuhkan air dan itu akan kami lakukan dengan timba. Sudikah engkau berdoa agar Allah memberkahi sumur ini? Imam Husein as menjawab: “Bawakan aku air dari sumur ini! Ibn Muthi’ kemudian membawa dan memberikannya kepada Imam Husein as. Beliau minum dan kemudian berkumur-kumur dengannya. Air yang tersisa kemudian dituangkan ke dalam sumur. Setelah itu, sumur menjadi penuh, tawar dan jernih”.[14]
 
Masalah ini tidak hanya dilakukan oleh Imam Husein as, tapi juga pernah dilakukan oleh Imam yang lain. Hal itu dikuatkan oleh Syaikh Shaduq dan Ibn Syahr Asub dari Abu as-Shalt. Abu as-Shalt meriwayatkan: “Ketika Imam Ridha as dipaksa menghadap Ma’mun. Karena telah melewati perjalanan jauh, mereka berkata kepada Imam Ridha as: “Wahai Ibnu Rasulillah! Telah masuk waktu zuhur. Apakah engkau tidak ingin melakukan salat? Imam Ridha as kemudian turun dari tunggangannya dan meminta air untuk melakukan wudu. Mereka menjawab: “Kami tidak membawa air”. Akhirnya beliau menyingsingkan tangannya kemudian mulai menggali sumur. Dari sumur tersebut memancar air jernih. Mereka yang hadir bersamanya waktu itu kemudian mengambil air wudu. Saat ini sumber air itu masih ada”.[15]
 
Ringkasnya, saat Imam Husein as menyaksikan bagaimana musuh tidak mengizinkan mereka untuk mendapatkan air, beliau kemudian menggali sumur untuk mendapatkan air. Apa yang dilakukan oleh Imam Husein as ini terlihat oleh pasukan musuh. Segera mereka melaporkan kepada Ubaidillah bin Ziyad apa yang dilakukan oleh Imam Husein as. Ubaidillah kemudian menulis surat kepada Umar bin Saad yang isinya, “Saya mendapatkan kabar bahwa Husein dan sahabat-sahabatnya menggali sumur dan mendapat air dari sana. Engkau tidak boleh membiarkan hal ini terjadi. Bila engkau telah membaca surat ini, segera berusaha bagaimana caranya agar mereka tidak dapat memanfaatkan sumur itu”.[16]
 
Sekaitan dengan surat itu, tidak ada data sejarah yang mencatat mengenai usaha Umar bin Saad untuk menghalang-halangi Imam Husein as untuk memanfaatkan sumur itu. Apalagi usahanya untuk menutup sumur tersebut. Sebaliknya, kita punya data bagaimana 30 orang berkuda dan 20 orang pejalan kaki dari rombongannya yang dipimpin oleh saudaranya Abbas untuk mengambil air dari sungai Furat. Usaha itu mengakibatkan timbulnya bentrokan bersenjata. Akhirnya pasukan Imam Husein as berhasil mengisi 20 tempat air mereka dan membawanya pulang.[17] Atas dasar ini, tidak jelas nasib sumur yang disebutkan itu. Riwayat yang dilukiskan oleh Ibn ‘Atsam al-Kufi bahwa sumur itu kemudian lenyap begitu saja tidak dapat dijadikan pegangan.
 
Benar, menggali sumur bagi Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya bukan masalah sulit. Mereka dengan waktu singkat dapat menggali parit yang cukup lebar di sekeliling kemah yang ada.[18] Di sisi lain, ada riwayat yang menceritakan bagaimana Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya pada pagi hari Asyura (hari kesepuluh bulan Muharam), mereka sempat membersihkan dirinya (mandi) dengan mencukur bulu badan.[19] Riwayat ini menunjukkan bahwa sampai pagi hari Asyura Imam Husein as dan rombongan masih memiliki air yang cukup. Karena bila air mereka tidak cukup, maka mereka tidak akan membersihkan badan dengan air. Artinya, mereka tidak mungkin membiarkan anak-anak dan wanita dalam kondisi tidak memiliki air. Namun, akibat dari penjagaan musuh atas air sungai Furat perlahan-lahan mengakibatkan persediaan air menipis bahkan habis. Terutama bagi anak-anak dan wanita.
 
Melihat kondisi anak-anak dan wanita yang mulai kehausan, sebagian dari sahabat Imam Husein as dengan suara lantang memprotes sikap pasukan musuh. Membawakan contoh dari ucapan salah satu dari sahabat Imam Husein as, dapat menjelaskan bagaimana Imam Husein as dan rombongannya berada dalam kondisi yang berat dan sulit. Hurr dan Burair bin Hadir Hamadani berteriak kepada pasukan musuh: “Kalian mencegah wanita dan anak-anak untuk mendapatkan air dari sungai Furat. Sementara pada saat yang sama kalian membiarkan anjing dan babi bermain-main di sana. Kaum Majusi dan Kristen dengan bebas dapat mengambil air dan meminumnya”.[20]
 
Sebagaimana telah disebutkan di muka, bahwa saya tidak punya informasi mengenai nasib sumur yang digali di depan kemah. Di sisi lain, usaha Imam Husein as bersama sahabatnya berusaha keras, terutama Abbas, untuk mendapatkan air. Di saat yang sama, rasa haus yang mendera rombongan dan keluarganya memberikan kejelasan bahwa sekalipun masih ada sedikit air di kemah, namun tidak ada lagi berita tentang adanya sumur. Bila kita masih bersikeras untuk menerima berita yang dinukil oleh Ibn ‘Atsir al-Kufi, karena tidak adanya data lain, maka itu hanya dapat diterima dengan mengatakan bahwa hal itu merupakan keramat Imam Husein as atau ujian bagi rombongan dan keluarga beliau.
 
Yang jelas, Imam Husein as dan sahabat-sahabanya yang sibuk menghadapi serbuan musuh dari segala arah pada hari Asyura, membuat mereka memerlukan air lebih banyak. Dan pada saat yang sama, mereka tidak mampu mendapatkan air. Kondisi ini dapat menggambarkan bagaimana mereka menghadapi situasi yang sangat sulit. Pada kondisi seperti ini, kemungkinan besar mereka akan memberikan sisa air mereka untuk anak-anak dan wanita. Itulah mengapa mereka menahan dirinya untuk tidak minum dan memberikannya kepada wanita dan anak-anak dan menjemput ajalnya dengan kehausan.
 
 Berdasarkan riwayat Ibn Syahr Asub, Ali Akbar yang berperang dengan gagah berani menghadapi musuh, ketika rasa haus semakin menyengatnya balik menuju ayahnya, Imam Husein as, untuk meminta seteguk air. Imam Husein as hanya dapat berkata: “Engkau akan mendapatkan air langsung dari tangan kakekmu Muhammad saw”.[21] Ibnu Syahr Asub menambahkan, “Abbas saudara Imam Husein as diperintahkan oleh kakaknya untuk mengambil air di sungai Furat. Akan tetapi hasilnya adalah syahadah. Musuh memotong kedua tangannya dan sambil ditegakkan dengan besi ia dibunuh. Dalam kejadian ini pun tidak disebutkan apakah ia berhasil membawa air atau tidak.[22] Dalam riwayat lain, Ibn Syahr Asub menukil, “Imam Husein as menangis di antara kemah dan sungai Furat. Ia menangisi mayat Abbas dan keluarganya yang sedang menderita kehausan”.[23]
 
Kita dapat melihat dalam penukilan Abu Hanifah Dinwari: “Pada saat-saat terakhir karena merasa sangat haus meminta tempat air untuk minum. Ketika tempat air telah dekat ke mulutnya, Hashin bin Namir, melepaskan panah tepat mengenai mulut Imam Husein as. Beliau tidak sempat meneguk air. Lalu tempat air dibiarkan”.[24] Hadis itu menunjukkan bahwa di kemah masih ada sisa air. Di mana sisa dari air itu diberikan kepada Imam Husein as. Karena jelas masalahnya bahwa tidak mungkin musuh yang memberinya air.
 
Majlisi menceritakan dalam bukunya, “Ketika Abbas telah mendapat izin dari saudaranya Imam Husein as untuk berperang, Imam meminta darinya untuk mengambil sedikit air untuk anak-anak. Abbas sendiri mendengar suara anak-anak yang merintih karena kehausan. Suara rintihan anak-anak menunjukkan bagaimana persediaan air telah habis. Berdasarkan penukilan Majlisi juga dapat disimpulkan bahwa Abbas tidak berhasil membawa air.[25] Poin penting lainnya dari riwayat ini adalah Imam Husein as hingga detik-detik terakhir tidak melepaskan perhatiannya dari penjaga air. Menurut riwayat Mufid, “Imam Husein dan Abbas bersama-sama menuju Furat dan menyerang para penjaga air. Dalam bentrokan bersenjata itu, Imam terluka di dagunya, sementara Abbas mereguk cawan syahadah”.[26] Abu Mikhnaf juga memberikan penjelasan bagaimana Imam Husein as berhasil menyerang pasukan penjaga air sungai Furat. Beliau berhasil mencapai tepi sungai. Pada saat ketika beliau hendak meminum air, ada yang sengaja berteriak bahwa kemah diserang. Mendengar itu, Imam Husein as tidak sempat untuk minum dan segera kembali.[27]
 
Dengan melihat penukilan yang dilakukan oleh para sejarawan Islam, menunjukkan bahwa Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya tetap berusaha untuk mendapatkan air bagi anak-anak dan wanita. Dengan ini diharapkan tekanan musuh dapat dikurangi.
 
Ada satu masalah yang perlu untuk dijelaskan. Dalam peristiwa Karbala, tidak ada satu sumber sejarah pun yang menyebutkan bahwa Imam Husein as menggendong bayinya menghadap barisan pasukan musuh sambil meminta air. Menurut data sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan adalah beliau menggendong bayinya untuk mengucapkan perpisahan. Saat itu ada yang memanah dan tepat mengenai bayi yang mati seketika. Abu Hanifah Dinwari menulis: “Pada detik-detik terakhir, Imam Husein as tinggal seorang diri berperang melawan musuh. Beliau meminta bayinya untuk digendong. Seorang tentara musuh dari Bani Asad menarik anak panahnya dan melesakkannya tepat mengenai bayi Imam Husein as. Bayinya, Ali Ashgar syahid seketika dalam pelukan ayahnya”.[28] Sejarawan lain juga menukilkan kejadian yang serupa dengan sedikit perbedaan dalam lafaznya.[29]
 
Kesimpulan
Pasukan Yazid bin Muawiyah yang dipimpin oleh Umar bin Saad mempergunakan air sebagai senjata untuk menekan Imam Husein as dan rombongan untuk menyerah. Namun, usaha itu tidak berhasil karena usaha Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya tidak pernah berhenti untuk mengusahakan air. Begitu juga anak-anak dan wanita yang menunjukkan kesabaran yang luar biasa menghadapi kondisi yang sulit ini. Semangat ini yang membuat Imam Husein as dan rombongan hingga detik-detik terakhir tidak menyerah. Dengan menahan rasa haus yang sangat Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya bertahan dan berperang dengan gigih. Ini jugalah yang sempat membuat kebingungan musuh. [S Lapadi]
 
 
Rujukan:
  ________________________________________
 [1] . Mufid, Muhammad bin Nu’man, al-Irsyad, diterjemahkan oleh Sayyid Hasyim Rasuli Mahallati, Entesharate Elmiyeh Eslamiyeh, cetakan ke -2, tanpa tahun, jilid 2, hal 37. Allamah Najisi, Muhammad Baqir, Teheran, 1385, jilid 44, hal 335.
 [2] . Ibid, jilid 2, hal 61. Mas’udi, Abu al-Hasan Ali bin Husein, Muruj az-Dzahab wa Ma’adin al-Jawahir, Teheran, 1360, jilid 2, hal 63.
 [3] . Thabari, Muhammad bin Jari, Tarikh Thabari, jilid 6, hal 2247. Ibn Atsir, Izzuddin Ali, al-Kamil fi at-Tarikh, jilid 3, tahun 35, hal 278. Mas’udi, ibid, jilid 2, hal 701. Miskawaih ar-Razi, Abu Ali, Tajarib al-Umam, Teheran, jilid 1, hal 414.
 [4] . Nashr bin Muzahim Nanari, Peikar Seffin, 1366, hal 219-222. Ya’qubi, Ahmad bin Abi Ya’qub, Tarikh Ya’qubi, jilid 2, hal 88-89. Dinwari Abu Hanifah, Ahmad bin Daud, Akbar at-Thiwal, Teheran, 1366, hal 208-210. Ibn Thaba’thaba, Muhammad bin Ali, Tarikh Fakhri, hal 122-123.
 [5] . Thabari, ibid, jilid 7, hal 2990. Mufid, ibid, jilid 1, hal 79. Ibn Atsir, ibid, jilid 5, hal 149.
 [6] Thabari, ibid, jilid 7, hal 3000-3001. Ibn Atsir, ibid, jilid 5, hal 156. Baladzri, Ahmad bin Yahya bin Jabir, Ansab al-Asyraf, Beirut, 1997, jilid 2, hal 176. Ibn Syahr Asub, Manaqib Aalu Abi Thalib, tanpa tahun, jilid 4, hal 96. Mufid, ibid, jilid 2, hal 84-85.
 [7] . Ibid, hal 301.
 [8] . Ibn ‘Atsam al-Kufi, Abu Muhammad bin Ahmad bin Ali, al-Futuh, Teheran, 1372, hal 887. Abu Hanifah Dinwari, ibid, hal 301. Ibn Atsir, ibid jilid 5, hal 185. Ibn Syahr Asub, ibid, jilid 4, hal 97. Thabari, ibid, jilid 7, hal 3006, Mufid, ibid, jilid 2, hal 88.
 [9] . Ibn Atsir, ibid, jilid 5, hal 158. Thabari, ibid, jilid 7, hal 3006. Baladzri, idem jilid 2 dan 3, hal 118. Abu al-Futuh al-Ishfahani, Maqatil at-Thalibin, tanpa tahun, hal 118. Mufid, ibid, jilid 2, hal88.
 [10] . Abu al-Futuh, ibid, hal 118. al-Majlisi, ibid, jilid 45, hal 51-52.
 [11] . Ibn ‘Atsam al-Kufi, ibid, hal 83.
 [12] . Ibn Syahr Asub, ibid, jilid 4, hal 50. Ibn ‘Atsam al-Kufi, ibid, hal 893.
 [13] . Ibid, hal 893. Al-Majlisi, ibid, jilid 44, hal 337.
 [14] . Ibn ‘Asakir, Tarjamah Raihanah Rasulullah al-Imam Mahdi Fi Sabilillah al-Husein bin Ali bin Abi Thalib Min Tarikh Madinah Dimasyq, Beirut, 1978, hal 155. Az-Dzahabi, Tarikh al-Islam Wafayat al-Masyahir Wa al-‘Alam, Beirut, 1990, jilid 5, hal 8.
 [15] . Qommi, Syaikh Abbas, Muntaha al-Amal, 1368, hal 894.
 [16] . Ibn ‘Atsam al-Kufi, ibid, hal 893.
 [17] . Thabari, ibid, jilid 7, hal 3006-3007. Ibn Atsir, ibid, jilid 5, hal 159. Ibn ‘Atsam al-Kufi, ibid, hal 894. Abu al-Futuh al-Ishfahani, ibid, hal 119. BAladzri, ibid, jilid 2, juz 3, hal 181. Dinwari, ibid, hal 301-302. Al-Majlisi, ibid, jilid 44, hal 338.
 [18] . Al-Majlisi, ibid, jilid 45, hal 4.
 [19] . Thabari, ibid, jilid 7, hal 3021. Ibn Atsir, jilid 5, hal 167.
 [20] . Thabari, ibid, jilid 7, hal 3029. Ibn Atsir, ibid, jilid 5, hal 173. Baladzri, ibid, jilid 2, juz 3, hal 189. Ibn ‘Atsam al-Kufi, ibid, hal 902. Mufid, ibid, jilid 2, hal 104.
 [21] .Ibn Syahr Asub, ibid, jilid 4, hal 109. Ibn ‘Atsam al-Kufi, ibid, hal 907. Al-Majlisi, ibid, jilid 44, hal 321.
 [22] . Ibid, jilid 4, hal 108.
 [23] . Ibid, jilid 4, hal 108.
 [24] . Abu Hanifah Dinwari, ibid, hal 304.
 [25] . Al-Majlisi, ibid, jilid 45, hal 41.
 [26] . Mufid, ibid, jilid 2, hal 113-114. Baladzari, jilid 2, juz 3, hal 201. Al-Majlisi, ibid, jilid 45, hal 50.
 [27] . Ibn Syahr Asub, ibid, jilid 4, hal 58. Al-Majlisi, ibid, 45, hal 51.
 [28] . Abu Hanifah Dinwari, ibid, hal 308.
 [29] . Ibn Syahr Asub, ibid, jilid 4, hal 109. Ibn ‘Atsam al-Kufi, hal 908. Ibn Atsir, ibid, jilid 5, hal 186. Thabari, ibid, jilid 7, hal 3055. Mufid, ibid, jilid 2, hal 112. Baladzri, ibid, jilid 2, juz 3, hal 201. Qommi, Syaikh Abbas, Naf sal-Mahmum Nafatsah al-Mashdur, tanpa tahun, hal 161-162.
 
       
Visits :
31 Today-Total 108005

a tribute to our beloving Imam Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib as

Counter Halaman ini telah diakumulasikan dengan counter halaman lama +plus 14.500 hits
Copyright © swaramuslim
 Hak cipta dilindungi oleh Allohu Subhanahu wa Ta'ala
Free Website Hosting